26 Jan 2019

Dia-nya Anji, Gambaran Seseorang yang Berhasil Move On

07:46 0 Comments

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari kujatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia 'ku merasa sempurna
Semua itu karena dia

Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia
Hanya padanya
Untuk dia

Pagi-pagi dengar lagu melow gini jadi ikutan melow nggak sih?
Ikutan melow sih boleh. Asal nggak keterusan jadi baper apalagi sampai mager, ya.
Nah, biar nggak mager, coba deh resapi lirik lagunya di antara musiknya yang mengalun.
Sejenak kamu akan tahu bahwa seseorang di lagu ini telah menemukan sosok baru dalam hidupnya. Sosok yang telah mengalihkan luka hatinya di masa lalu. Hingga seseorang itu bisa kembali tersenyum karena sosok yang ia sebut dengan "dia".
Sosok "dia" dalam lagu yang dipublikasikan pada 21 April 2016 ini mungkin akan membuka ingatanmu di masa lalu. Jika pernah mengalami hal serupa seperti seseorang di lagu ini, kamu mungkin akan merasa 'klik' banget sama lagu ini. Yang pernah dikecewakan orang yang tidak tepat di masa lalu, kemudian bertemu dengan sosok baru lalu dengannya kamu merasakan sempurnanya rasa, lagu ini mungkin bisa dikatakan sangat menggambarkan perasaanmu. Ah, itu artinya kamu berhasil move on. Sama seperti seseorang di lagu ini.
Kalau untuk diriku sendiri, memang benar, lagu yang diciptakan oleh Fredy Harahap ini juga sedikit banyak mewakili apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah aku rasakan #cie
Dulu kenangan tentang perasaan yang sempat terluka itu ada. Tapi bersyukurnya, datang juga sosok "dia" yang akhirnya menjawab semua penantianku. Dan dengan "dia", aku sekarang menjalani sisa hidupku.
"Dia" yang bisa membuatku jatuh cinta setiap hari. "Dia" yang menjadikanku sempurna karena dicintai. "Dia"-lah, suamiku. Dan ya, aku termasuk yang berhasil move on, sama seperti seseorang di lagu ini.
Ah, semoga semua ungkapan ini tidak terkesan gombal atau lebay.

Salam,

24 Jan 2019

Pesan Ibu: Membantu Sekuat Tenaga, Memberi Sebaik Mungkin

12:09 0 Comments

Meskipun Hari Ibu sudah terlewat jauh, semoga tulisan ini tetap mewakili perasaan bangga penuh cinta pada sosok ibu.

Ibu. Apa yang terlintas di pikiran saat mendengar kata itu? Kalau aku, langsung terbayang sosok perempuan tangguh yang aku panggil "Emak". Beliau perempuan yang telah bertaruh nyawa untuk bisa menghadirkanku ke dunia. Beliau perempuan yang darinya aku mendapatkan sumber kehidupan pertama berupa air susu. Beliau perempuan yang bahkan hingga detik ini, hingga akupun menjadi ibu, tetap mengorbankan tenaganya, pikirannya dan apapun yang dimilikinya, tanpa pernah mengharapkan imbalan.

Kasih sayangnya? Jangan ditanya lagi. Karena kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.
Pengorbanannya? Jangan ditanya juga. Kalaupun nyawanya diminta, ibu akan dengan rela memberikannya.
Doanya? Jangan juga pernah meragukannya. Karena bahkan langit saja tidak mau membatasi doa dari mulutnya untuk langsung didengar Allah.

Ibu, memang sangat tepat disebut perempuan tangguh. Bukan lagi tentang pekerjaan rumah yang sudah menjadi kewajibannya. Itu sudah pasti bisa diselesaikannya tanpa menanti bayaran atau penghargaan dari siapapun. Bahkan jika harus merelakan waktu istirahatnya untuk mengurus anak dan rumah tangga, ibu akan melakukannya meski harus menampilkan wajah sayu karena letih.

Ibu, ibuku lebih dari sekedar ibu rumah tangga. Ibuku juga mampu bekerja keras mencari uang untuk membayar biaya hidup anak-anaknya. Bukan, bukan karena ayahku tidak mampu menafkahi kami. Tapi karena ibu tak mau diam saja dan hanya berpangku tangan menunggu pemberian suaminya. Ibuku justru ingin bersama ayahku berusaha bersama, berdua, untuk kehidupan keluarga yang lebih baik. Ibu, tak pernah ingin diam sementara Beliau tahu ada banyak hal yang bisa dilakukakannya selama itu untuk kebaikan anak-anaknya.

Seperti lirik lagi dari Jasmine Elektrik ini, "ku kayuh perahu menuju pulau citaku. diiringi doa nasehat bijakmu ibu", ibu yang tak hanya membekali anak-anaknya dengan doa namun juga nasehat berharga.

Tidak akan cukup sebanyak apapun lembar kertas untuk menceritakan kebaikan ibu. Karena ibuku bukan hanya orangtua kandungku. Karena ibuku sekaligus guru kehidupanku yang mengajarkan banyak nilai-nilai penting dalam kehidupan, agar kami menjadi manusia yang baik, yang berhati dan peduli.

Ya, kepedulian ibuku pada orang lain bahkan sering membuat diriku sendiri iri. Bagaimana mungkin setulus itu berbuat baik kepada orang lain, sementara bahkan ucapan terimakasih saja sering tidak diterimanya. Bagaimana mungkin sepeduli itu terhadap orang lain, sementara saat dirinya tengah butuh kepedulian, tak ada balasan dari orang yang telah dipedulikannya kemarin. Bagaimana mungkin sesegera itu menolong orang lain, sementara saat dirinya butuh ditolong, tidak ada yang mungkin bisa dimintai.

Ternyata, pertanyaan heranku itu terjawab dengan sebuah jawaban yang akhirnya membuatku sadar bahwa hidup kita sudah ada yang menjamin. Ibu bilang, ibu berbuat baik hanya ingin mendapat balasan dari Allah, bukan dari siapapun manusia yang pernah diringkankan bebannya oleh ibuku. Ibu bilang, orang berbuat baik tidak akan pernah rugi. Hanya tidak mendapat balasan atau sekedar ucapan terimakasih saja itu sama sekali bukan masalah besar.

Yang terpenting adalah niat tulus kita. Dan biarkan Allah yang membayar atas semuanya. Karena bayaran dari Allah tentu saja tidak akan pernah bisa menandingi bayaran dari manusia, sekaya apapun dia.

Satu lagi jawaban ibu yang membuatku ingin terus berbuat baik. Ibu bilang kalaupun tidak ada balasan kebaikan yang kita terima atas kebaikan kita terhadap orang lain, pastilah anak cucunya yang akan merasakan balasannya kelak. Ya, selain selalu menyebut nama kami dalam doa, rupanya ibuku sudah menabung sikap baik yang kelak hasil baiknya akan bisa diterima anak cucunya.

Ibu bilang, "Jangan pernah berfikir dua kali untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Karena kalau bukan kita sendiri yang mendapat balasan baik, pasti anak cucu kita nanti yang akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di manapun dan kapanpun. Juga jangan ragu untuk berbuat baik, karena jika bukan kita sendiri yang menerima balasan bantuan, maka anak cucu kita yang akan dibantu"

Ibuku juga bukan orang yang bisa mudah melupakan kebaikan orang lain. Meski tak seberapa, kebaikan orang lain terhadapnya akan selalu diingatnya dan berusaha untuk membalasnya dengan balasan yang lebih kalau memang bisa. Inilah yang juga menjadi pelajaran yang terus aku ingat.

Berbuat baik identik dengan memberi. Dan dengan memberi tidak akan pernah menjadikan kita kurang. Itu juga yang dipercayai oleh ibuku. Beliau memiliki prinsip bahwa memberi harus yang terbaik.

Jika bisa memberi yang besar, mengapa hanya memberi kecil?
Jika bisa memberi yang banyak, mengapa hanya memberi sedikit?
Jika bisa memberi yang bagus, mengapa yang jelek tidak dibuang saja dan tidak perlu diberikan?
Jika mampu memberi sekarang, mengapa harus menundanya?

Ya, itulah yang menjadi pedoman ibuku yang akhirnya juga menjadi pelajaran berharga bagiku. Ibuku akan memberi sebaik mungkin yang asal Beliau bisa dan mampu. Karena dengan memberi asal-asalan, memberi yang tidak baik itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Begitu kata ibuku.

Membantu sekuat tenaga, memberi sebaik mungkin. Dua pesan itu yang tetap aku ingat dan berusaha jalankan hingga kini. Semoga bisa sekuat, sebaik, dan setulus ibu.

#JasmineElektrikCeritaIbu

Salam,

23 Jan 2019

Tentang Sebuah Pertanyaan "Trenggalek itu Mana?"

10:43 0 Comments

Beberapa waktu yang lalu, sempat ramai sebuah pertanyaan "Trenggalek itu mana?"

Itu merupakan sebuah pertanyaan. Namun kemudian berkembang menjadi sebuah jargon, jargon-nya wong Nggalek. Dan kemudian berkembang lagi menjadi tulisan yang banyak tertera di mana-mana, termasuk di kaos. Ya, dari sebuah pertanyaan itu muncullah sebuah kreativitas berupa produk pakaian dengan tulisan khas "Trenggalek Itu Mana?"

Lalu kenapa sampai ada pertanyaan seperti itu?

Ternyata, karena begitu banyaknya cerita dari orang-orang Trenggalek yang pergi ke banyak tempat. Bertemu dengan orang di suatu tempat umum, ngobrol-ngobrol, wajar dong kemudian ada pertanyaan, "Asli mana Mbak?", atau "Orang mana Mas?".

Dan saat dijawab, "Saya dari Trenggalek", you know how is the response?

Mereka mengernyitkan dahi tanda pertanyaan baru muncul, "Trenggalek itu mana ya?" atau "Trenggalek itu daerah mana sih? Kalimantan? Sulawesi?". Duh, begitu terpencilnya kah kota tempat tinggalku hingga banyak yang nggak tahu?

Yang lebih parah nih kalau ada yang merespon begini, "Oh ada ya Trenggalek tuh? Aku tahunya Tulungagung sama Ponorogo aja". Jadi kepengen garuk-garuk tembok nggak sih denger yang begitu?

Okelah, lupakan bagaimana respon mereka. Mungkin memang mereka pikniknya belum jauh dan belum sampai Trenggalek, makanya nggak tahu hihihi. Berarti tugas kita yang harus mengenalkan Trenggalek. Kita? Orang-orang Trenggalek saja maksudku hehe

Kemudian Trenggalek mulai dikenal dari beberapa tujuan wisatanya yang justru terkenal terlebih dahulu dari pada nama kotanya. Huhuhu, sedih sih, tapi di sisi lain itu juga membanggakan. Misalnya saja Pantai Prigi. Wisatawan dari luar kota lebih mengenal nama pantai itu daripada tahu bahwa pantai itu merupakan bagian dari wilayah Trenggalek.

Karena Trenggalek berada di bagian selatan Pulau Jawa, tentu saja Trenggalek punya banyak pantai. Soal keindahannya, jangan ditanya, sudah pasti bikin kamu betah menikmati pemandangannya. Nggak cuma satu, ada banyak pantai yang bisa kamu kunjungi semuanya. Dan semuanya, menawarkan keindahan masing-masing.

Pantai Pasir Putih Karanggongso Trenggalek
Nama Trenggalek juga semakin dikenal saat kota yang sebagian wilayahnya merupakan pegunungan ini dipimpin oleh sepasang Bupati dan Wakil Bupati muda. Beliau adalah Bapak Emil Dardak dan Bapak Muhammad Nur Arifin.


Kalau memperhatikan foto di atas, kamu pasti mengenali satu sosok. Ya, sosok Arumi Bachsin, seorang artis kini menjadi istri Bupati Trenggalek. Makin terkenal Trenggalek punya ibu Bupati seorang artis hehe

Trenggalek makin dikenal, tapi yang mem-bully tetap ada. Bukan, bukan bully-an yang terkesan negatif, tapi lebih ke candaan saja. Misalnya nih, Trenggalek nggak punya rel kereta, nggak punya stasiun, jadi nggak bisa ke Trenggalek naik kereta. Iya, itu betul kok hehe

Satu lagi, Trenggalek nggak ada mall, nggak kayak kota-kota lainnya. Memang itu juga betul. Ya, seperti itulah. Meskipun nama Trenggalek sudah banyak dikenal, namun tetap ada satu dua hal dari Trenggalek yang tertinggal dari kota lain di sekitarnya.

Meskipun mendengar nama Trenggalek pasti terbayang daerah pegunungan, terpencil dan ndeso, tapi Trenggalek punya beragam kebudayaan yang patut dibanggakan.

Larung Sembonyo
Salah satunya ini nih, yang mengundang banyak pengunjung setiap tahunnya. Labuh laut atau larung Sembonyo di Pantai Prigi. Tradisi ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Tradisi ini diadakan setahun sekali setiap bulan Selo (salah satu bulan dalam hitungan Jawa) pada hari Senin Kliwon.

Satu lagi, tradisi khas Trenggalek yang setiap tahun selalu digelar. Yaitu, hari raya Kupatan yang diadakan pada hari kedelapan bulan Syawal. Inilah yang menjadi daya tarik. Jika biasanya orang-orang bisa menyantap menu khas lebaran yaitu ketupat pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, maka di Trenggalek harus menunggu hari kedelapan untuk menikmati ketupat. Momen ini juga menjadi momen spesial karena sudah pasti sangat ramai. Keluarga dari luar Trenggalek akan datang pada hari ini.

Selain dua tradisi di atas, ada satu lagi tradisi khas Trenggalek. Yaitu, bersih desa Dam Bagong yang diselenggarakan pada hari Jumat Kliwon. Cerita tentang awal mula ritual bersih dam inipun masuk dalam cerita wayang klasik. Tradisi ini dilakukan dengan penyembelihan kerbau sebagai pengorbanan.

Ada tradisi khas Trenggalek, ada pula seni kebudayaan yang dimiliki Trenggalek. Sebut saja, tari Turonggo Yakso sebagai seni jaranan asli Trenggalek yang ini menceritakan kemenangan warga desa dalam mengusir marabahaya atau keangkaramurkaan yang menyerang desanya. Tarian ini selalu dibawakan setiap bulan Suro.

Ada juga seni tari Tiban yang lebih mirip dengan adu ilmu bela diri dan kesaktian. Menyaksikan pertunjukan ini, kamu akan melihat para penari saling mencambuk lawannya. Memang mengerikan, tapi ini dulunya dilakukan untuk meminta turunnya hujan.

Di sebagian wilayah Trenggalek, juga masih eksis seni tari Tayub. Tari yang diiringi gamelan lengkap ini sekarang hanya bisa ditemui di acara hajatan saja seperti pernikahan atau khitanan.

Inilah Trenggalek-ku. Mungkin belum banyak yang tahu, tapi Trenggalek memiliki banyak pesona yang bisa membuatmu jatuh cinta.

Trenggalek itu mana? Trenggalek-ku selalu di hati kemanapun aku pergi

Salam,

21 Jan 2019

Menjadi Mom Blogger, Cara Seru Berekspresi Ala Ibu Muda Zaman Now

16:56 0 Comments

Blog, aku mengenalnya mulai tahun 2009, saat baru saja aku berstatus sebagai mahasiswa baru. Iya, aku yang seorang mahasiswa baru kala itu mulai terbiasa dengan komputer dan sambungan internet guna menyelesaikan tugas-tugas ku. Sebelumnya, memang belum terlalu terbiasa dengan internet karena pada masa itu internet belum sepenting sekarang ini.

Lupa waktu itu dapat ide dari mana buat kepikiran bikin blog. Yang aku tahu cuma, aku bisa nulis dengan punya blog. Lalu jadilah akun blog dengan usaha rada ekstra karena bikin sendiri tanpa nanya ke siapapun, dan cuma berbekal pengetahuan yang terbatas. Padahal blog waktu itu sama sekali belum nge-trend kayak Facebook yang saat itu sudah mulai banyak orang tahu dan punya akun di sana. Tapi tidak masalah, tetap ada kebanggaan tersendiri karena punya blog.

Tampilan blog masih ala kadarnya karena belum paham bagaimana caranya menyetting tema, tata letak dan kawan-kawannya. Isinya? Seperti niat awal membuat blog karena ingin menulis, ya isinya tidak jauh-jauh dari cerpen ala anak muda dan puisi kegalauan. Ditambah juga beberapa puisi dalam bahasa Inggris yang menjadi tugas kuliahku. Intinya, waktu itu aku tak lagi nulis cerpen dan puisi di buku lagi seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku merasa punya wadah yang lebih keren untuk karyaku, yaitu blog.

Ya, itulah masa-masa awalku mengenal blog tanpa peduli bagaimana caranya mendatangkan banyak pengunjung ke sana. Sayang, masa perkenalan tidak berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Blog-ku akhirnya terbengkalai seiring semakin padatnya tugas kuliahku.

Hingga waktu berlalu, aku lulus kuliah, menikah dan punya anak. Masih tetap ingat pernah punya blog, tapi sayang tidak ingat email dan password-nya. Otomatis tidak bisa buka blog itu buat diisi lagi. Tapi masih bisa dibuka untuk melihat lagi tulisan-tulisannya.


Inilah Momen Pertamaku Saat Memutuskan Kembali Nge-Blog

Sudah bukan mahasiswa, dan jadi ibu rumah tangga, semakin tidak ada kesempatan buat menikmati hobi menulis. Tanpa sadar aku tetap menyalurkan hobi itu saat aku memposting status di Facebook. Kebetulan memang aku menjadi marketer untuk suatu produk yang mengharuskan untuk promosi di media sosial. Jadi kesenanganku menulis masih bisa tersalurkan melalui itu.

Dari Facebook pula lah, aku mengenal sebuah komunitas bernama Estrilook Community. Sebuah komunitas menulis yang baru terbentuk tapi ternyata isinya bukan penulis baru. Melainkan para penulis berpengalaman yang sudah menulis ribuan artikel di media online, menulis banyak buku antologi maupun karya pribadi, juga para blogger yang ternyata jam terbangnya sudah banyak. Wah, aku merasa hobiku menulis telah menemukan jalannya.

Benar saja, ada tantangan dari komunitas tersebut untuk menulis artikel selama sebulan penuh. Aku mengikutinya dan berhasil menjadi salah satu pemenang.


Semakin yakin dengan hobiku menulis, aku mulai mengirimkan artikel buatanku ke sebuah media online. Dan wow, artikelku dimuat dan itu bayaran pertamaku dari sesuatu yang aku gemari selama ini. Meskipun fee yang aku terima belum banyak, but it was so amazing karena ternyata hobiku menulis kini bisa menghasilkan.

Makin semangat, of course. Lanjut ada kelas blog dari salah satu blogger muda yang sudah cukup berpengalaman di komunitas tersebut. Momen menjadi pemenang di tantangan menulis sebelumnya itulah yang membuatku semakin yakin akan kegemaranku menulis dan tidak ragu untuk membuat blog keduaku. Pikirku, aku harus kembali punya wadah untuk menampung ide-ideku, sama seperti dulu. Alhamdulillah blog keduaku jadi. Dan kali ini blog-ku jauh lebih cantik ketimbang blog pertamaku dulu. Senangnya luar biasa. Makin berlipat semangatnya untuk kembali nge-blog.


Dan Ini Momen Keduaku

Mulai dari nol, aku kembali mengisi satu demi satu tulisanku di blog itu. Keadaannya masih sama, belum paham bagaimana caranya mengoptimalkan blog, aku cuma fokus nulis dan nulis. Dan rasanya juga masih sama, menulis itu menyenangkan. Aku mulai membagikan banyak hal di blog-ku. Karena sekarang sudah punya anak, jadi kebanyakan konten blog-ku membahas tentang perempuan, ibu dan anak, bukan lagi konten ala-ala anak muda zaman dulu hehehe.

Menjadi seorang ibu muda memang pasti akan banyak menemui hal baru. Seolah semua ingin dibagi-tahukan kepada khalayak. Semisal, pengalaman saat melahirkan, suka duka selama menyusui, hingga persiapan memberikan MPASI untuk si kecil. Dengan membagikannya melalui tulisan, pasti akan ada banyak ibu di luar sana yang mendapat manfaat. Yang belum tau, menjadi tahu. Yang belum berpengalaman, menjadi punya bekal ilmu.


Lagi-lagi sebagai ibu, tentu tidak akan habis pembahasan mengenai anak. Ada waktunya kita sebagai ibu menjadi kreatif dalam mengajarkan satu kebiasaan. Ada kalanya sebagai ibu kita menjadi lebih kritis saat memilihkan sesuatu untuk anak. Ada saatnya kita memutuskan untuk menggunakan pola tertentu dalam  mengasuh anak. Semua itu bisa kita jadikan sebuah tulisan yang pasti akan menginspirasi para ibu lainnya.

See, menjadi mom blogger adalah cara paling asyik untuk berekspresi. Kita bisa berbagi, tentu saja berbagi hal positif dengan cara yang positif pula, sekaligus belajar dari pengalaman ibu lain. Momen sebagai seorang ibu ini yang kemudian memperkuat keinginanku untuk menjadi mom blogger. Lebih seru dan makin asyik lagi jika tulisan kita mendapat tanggapan positif dari pembaca. Wah, makin semangat untuk menciptakan konten menarik lainnya.


Menjadi Mom Blogger adalah Sebuah Kebanggaan

Dengan menjadi blogger, aku bisa bersuara meski tak secara langsung. Dengan menjadi blogger, aku bisa menorehkan jejak keberadaanku. Dengan menjadi mom blogger, aku bisa berbagi dan belajar. Itu semua membanggakan. Meskipun perjalananku untuk menjadi seorang blogger profesional dengan blog keren dan penghasilan menggiurkan, itu masih panjang.

Kedepannya, di tahun 2019 ini terutama, aku semakin ingin menekuni dunia ini, dunia seorang mom blogger. Dan aku sudah memulai langkahku di awal tahun ini dengan mengikuti beberapa kompetisi blog. Dengan harapan semoga dengan menjadi blogger, aku tidak hanya memperoleh banyak manfaat untuk diriku sendiri, tapi juga menebar manfaat untuk orang lain.

Aku menyadari bahwa aku menjadi ibu muda di era digital, era di mana arus informasi dan kecanggihan teknologi berkembang pesat. Aku sadar bahwa di masa depan, anakku akan memasuki masa yang lebih canggih, dan tentunya lebih sulit. Karenanya, sebagai ibu, aku tidak ingin terlalu jauh ketinggalan zaman agar kelak aku tetap bisa menggandeng anakku di masa depan yang lebih modern.

Untuk itu aku tetap ingin belajar, semakin banyak belajar, bukan berpangku tangan dan membiarkan diriku disebut gaptek. Karena sekarang internet bisa diakses dengan mudah dan tanpa batas, itu artinya aku masih punya kesempatan belajar meskipun statusku hanya sebagai ibu rumah tangga. Aku masih bisa berbuat lebih dengan tetap menyaksikan tumbuh kembang anakku.

Benar, aku hanya di rumah. Benar, aku hanya momong anak. Tapi aku membiarkan pikiranku terbuka akan perubahan, agar aku bisa lebih banyak belajar. Jari dan ideku juga tetap bisa bergerak, merangkai untaian kalimat yang aku harap orang lain bisa mengambil manfaat darinya.

Salam,

Aku Sebut 2018-ku sebagai My Turning Point

12:25 0 Comments
foto: pexels.com
Sudah memasuki hari ke 22 di tahun 2019, di awal tahun, di bulan Januari.

Belum terlalu terlewat untuk membicarakan soal resolusi 2019. Masih banyak yang membicarakannya, bahkan masih ada yang baru memulai memikirkannya. Atau ada juga yang sudah memulai langkah pastinya.

Tapi membicarakan tentang resolusi 2019, sepertinya sudah pernah aku ceritakan di sini. Jadi sekarang membahas tentang masa lalu saja. Masa lalu yang belum terlalu lama. Masa lalu yang paling dekat. Yaitu tentang 2018.

2018, tahun di mana ada banyak sekali kejutan dan hal-hal tak terduga terjadi dalam hidupku. Meskipun kenyataannya, semua yang terjadi itu bukanlah apa yang aku rencanakan dan aku jadikan resolusi di awal tahun 2018. Alias, ya, resolusiku di awal 2018 hanya sekedar wacana, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Oke, cerita di mulai dari keluarga. Nggak ada perubahan besar dalam keluarga. Anak masih satu, belum nambah. Hanya makin gede saja dan makin banyak maunya hehe. Plus 2018 sudah mulai memikirkan untuk memasukkan anak ke sekolah. Mulai memikirkan bakalan bayar uang sekolah tiap bulan. Itu artinya harus mulai ada anggaran khusus dan nggak bisa lagi beli ini itu sesuka hati. Oke, fix, tahun 2018 adalah tahun mulai menabung.

Lanjut ke karir. Sebenarnya malu mau ngomongin karir. Secara selama 3 tahun terakhir menjadi ibu rumah tangga. Nggak ada pekerjaan di luar rumah, nggak lagi ngerasain pakai seragam dan sepatu. Yang ada, pakainya daster. Mana mungkin aku sebut ini karir?

Tapi well, nyatanya aku bisa berpenghasilan meskipun aku hanya di rumah. Iya, aku seorang leader di sebuat komunitas bisnis. Di tahun 2018, aku memiliki semakin banyak anggota tim yang membantu penjualanku. Dari sini, paling tidak penghasilanku sudah sedikit meningkat. Lebih banyak daripada saat aku menjadi guru honorer dulu. Alhamdulillah.

Dan, ada satu lagi karir yang aku mulai di tahun 2018. Karir yang tidak pernah aku impikan tapi dulu pernah aku cita-citakan. Aku mulai masuk ke dunia literasi lewat sebuah tantangan menulis artikel selama 30 hari yang diadakan oleh sebuah komunitas menulis. Di akhir tantangan, aku berhasil menjadi pemenang dan tentu saja mendapat hadiah berupa uang. Alhamdulillah, aku bisa berpenghasilan lewat jalan rezeki yang lain. Dan kali ini pekerjaanku adalah hal yang aku gemari, yaitu menulis.

prestasi pertamaku di dunia menulis ;)
Jangan tanya bagaimana rasanya! Sudah pasti aku senang karena ternyata hobiku sedari kecil itu tersalurkan ditambah aku mendapat keuntungan dari sana. Semakin semangat menulis dan semakin ingin berkarya lebih. Alhamdulillah lagi, komunitas tersebut terus memberi kesempatan untuk menulis. Hingga sudah puluhan artikelku terbit di media online tersebut dan menjadi sumber penghasilanku selanjutnya.

Selanjutnya adalah, 2018 adalah tahun di mana aku kembali menulis di blog. Kembali? Iya, aku pernah memiliki blog saat awal masuk kuliah. Blog yang waktu itu hanya untuk iseng-iseng, nulis-nulis sembarangan dan akhirnya lupa password hingga nggak bisa dibuka lagi. Akhirnya bikin blog lagi tanpa sebelumnya ngerti bakalan ada keuntungan apa dari sebuah blog.

Ternyata nge-blog itu asyik. Ketemu dengan banyak blogger, berbagi info tentang job menulis, dan satu lagi yang paling asyik, yaitu bisa ikut banyak lomba menulis. Terlepas dari seberapa banyak hadiah yang disediakan dari penyelenggara, aku hanya ingin menjadi konsisten menulis di blog. Menyimpan semua karyaku di sini, agar kelak masih bisa dilihat banyak orang meski aku tidak lagi ada :)

Masih tentang karir menulisku di tahun 2018. Aku semakin banyak menulis dan semakin banyak pula hasil yang aku dapatkan dari situ. Dengan menjalankan dua pekerjaanku ini, aku masih bisa mendapat penghasilan rutin meskipun hanya di rumah. Tak peduli sebutan penggangguran yang melekat padaku.

Inilah kenapa aku sebut tahun 2018 sebagai my turning point, titik balikku.

Karena 2018 adalah awal aku merasakan benar-benar menikmati peranku sebagai ibu rumah tangga. Setelah sebelumnya aku harus sering mendengar perkataan orang yang membicarakanku karena aku tidak bekerja. Karena aku dianggap menyia-nyiakan ijazahku yang telah susah payah aku dapatkan.

Setelah sebelumnya aku sempat bimbang untuk kembali bekerja atau tidak. Di 2018, aku telah bisa membuktikan bahwa uang tidak hanya bisa diperoleh dengan bekerja di luar. Aku tetap bisa merasakan gaji tanpa harus meninggalkan anakku seharian penuh. Ternyata Allah tidak kehabisan jalan untuk mengalirkan rezeki pada hambaNya.

Dan kejutan terbesar datang di detik-detik akhir pergantian tahun ke 2019. Iya, aku dan suami tepatnya, kami mendapat kabar bahagia pada malam tahun baru. Suamiku dinyatakan lulus CPNS. Akhir tahun yang luar biasa. Dan 2018 yang tak terlupakan.

Aku juga sebut ini sebagai my turning point. Karena sebelumnya kami memang belum dipercaya untuk mendapat amanah rezeki yang banyak. Kami memang belum bisa membangun rumah sendiri dan masing tinggal bersama orangtua. Kami juga sering dibilang hanya mengandalkan kepunyaan orangtua tanpa bisa berusaha sendiri.

Dan 2018 adalah jawabannya. Kami akhirnya diberi kesempatan untuk mengemban amanah ini. Kepercayaan dan rezeki dari Allah. Kami mensyukurinya. Sangat mensyukurinya. Itu artinya kami harus siap untuk kehidupan yang lebih membutuhkan perjuangan. Semoga Allah memberi kami kekuatan. Aamiin.

Salam,

19 Jan 2019

Sama seperti Bermasyarakat, Ber-Media Sosial juga Ada Attitude-nya

11:52 0 Comments
foto: pexels.com 
Hai Moms,

Punya akun media sosial apa aja nih? Facebook? Instagram? Twitter? Punya semua? Keren dong, mama muda kekinian berarti hehe

Kita ditakdirkan hidup di zaman modern. Istilah kerennya, generasi milenial yang hidup di era digital. Dari sebutannya sudah tahu dong ya, bahwa kita sedang berada di masa di mana teknologi sedang berkembang sangat pesat, arus informasi bergerak cepat tanpa kenal jarak dan waktu, di tambah semakin mudahnya komunikasi yang bisa dilakukan hanya dari genggaman tangan.

Semua perkembangan zaman itu kini telah menuntun kita untuk terus mengikutinya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan media sosial. Hampir semua orang, tak peduli umur, status sosial maupun pendidikan, semuanya memiliki akun media sosial. Tak hanya satu, bahkan ada yang punya sampai beberapa. Tak hanya satu platform, di banyak platform media sosial punya akun.

Lalu, sebenarnya untuk apa punya semua itu? Sudahkah kita tahu untuk apa kita membuat akun-akun tersebut? Ataukah kita hanya terbawa arus modernisasi alias ikut-ikutan?

Media sosial sudah hampir sama dengan bermasyarakat dalam arti yang sebenarnya. Di masyarakat, kita akan bertemu banyak orang, berinteraksi dengan mereka. Di media sosial pun sama. Bedanya kita tidak bertatap muka secara langsung. Inilah yang disebut dunia maya.

Dunia maya memang tidak nyata. Tapi orang-orang yang mengisinya tentu saja nyata. Nggak mungkin dong, yang bukan manusia ikutan bikin akun media sosial? hihihi sereeemm

Maksudh dan tujuannya pun juga sama. Kita butuh tetangga, butuh masyarakat untuk bisa berinterkasi dan saling membutuhkan. Di media sosial pun sama. Kita butuh teman untuk berinteraksi.

Sama juga ketika kita bersosialisasi di masyarakat. Bersosialiasai di media sosial juga butuh tata krama, attitude, sopan santun, dan semua pelajaran norma yang dulu pernah kita terima saat masih sekolah. Bukan berarti, mentang-mentang media sosial itu hanya dunia maya, tak terlihat, kita bisa seenaknya berperilaku. Karena sekarang pun sudah ada undang-undang yang mengatur perilaku saat ber-media sosial.

Kita memang punya hak penuh atas akun yang kita punya. Akun-akun kita, kita sendiri yang bikin, sesuka hati kita mau dipakai apa. Boleh sesuka hati tapi jangan sampai kita terkena  undang-undang yang bisa saja menjerat kita dalam kasus hukum. Sudah banyak buktinya tuh, para haters yang menyerang artis dan akhirnya ketangkap polisi. Nggak mau begitu kan?

So, ayo lah jadi generasi muda yang benar-benar modern. Bukan cuma gayanya saja yang mau dibilang modern dan kekinian. Tapi otaknya juga harus modern, pikirannya harus terbuka. Jangan sampai jari kita tanpa kontrol mengetik komentar pedas, mem-bully, bahkan ikutan menebar kebencian. Dunia ini sudah makin panas. Jangan tambah lagi dengan kebencian-kebencian yang tidak mendasar.

Ciptakan suasana bersosialisasi yang adem di media sosial kita. Bukankah kita juga suka saat ada akun yang memberi kita banyak manfaat? Banyak motivasi misalnya. Atau banyak ilmu-ilmu penting yang bisa kita petik dari sana. Kita sendiri senang dengan segala sesuatu yang baik. Maka ciptakan juga kebaikan agar orang lain bisa ikut merasakan.

Memposting tulisan yang bermanfaat, tentang ilmu parenting misalnya, akan lebih keren daripada pasang status yang isinya cuma mengeluh.

Memposting resep makanan, akan lebih berguna bagi ibu-ibu lain daripada status yang isinya membicarakan keburukan orang lain.

Memposting tips-tips kecantikan, akan lebih bermanfaat bagi yang lain daripada status yang menunjukkan kegalauan, baper, sedih nggak jelas.

Karena semua sebenarnya sudah ada tempatnya. Dan jangan sampai kita salah tempat.

Sedih, bisa curhat sama pasangan.

Bermasalah sama pasangan, bisa curhat sama orangtua.

Punya kesulitan, ada sajadah untuk alas mengadu pada Allah.

Jadi, jangan sampai semuanya ditumpahkan di media sosial. Karena sesungguhnya, orang lain tidak terlalu tertarik dengan masalah dan kesulitan kita. Mereka kadang hanya sekedar ingin tahu saja, dan hanya sedikit yang benar-benar peduli.

Daripada membuang energi untuk menunjukkan hal-hal tidak penting di media sosial, gunakan saja energi untuk mencari solusi jika ada masalah. Begitulah, sama seperti saat kita bermasayrakat, bertetangga, sebenarnya tidak semua masalah kita harus tetangga kita tahu.

Salam,

12 Jan 2019

2019, Semakin Berlari Medekati Mimpiku yang Mulai Terbuka di 2018

08:52 0 Comments
foto: pexels.com
Awal tahun 2019 ini, usiaku telah menginjak 28 tahun.

Bukan lagi usia muda untuk terus bersenang-senang. Bahkan bisa dibilang usia yang sudah cukup telat untuk mencapai cita-cita. Iya, aku sekarang telah berada di masa depan, yang dulu sering aku sebut-sebut saat aku masih belia.

Namun ternyata, berada di masa depan belum tentu menyenangkan. Karena faktanya aku hanya sampai di masa depan, namun belum sampai di cita-cita yang dulu aku impikan. Cita-cita menjadi seorang penulis, seperti yang pernah aku sebutkan saat aku ditanya oleh guruku waktu di sekolah dasar.

Aku bisa saja berhenti dan mengubur cita-cita itu, karena ternyata perjalananku semakin jauh dari sana. Aku mengambil jurusan pendidikan saat di bangku kuliah. Tentu saja jurusan itu tidak berorientasi pada profesi penulis, tapi mengarah ke profesi pendidik. Namun jurusan pendidikan Bahasa Inggris yang aku ambil waktu itu ternyata masih memberiku kesempatan untuk menyalurkan hobi menulisku lewat tugas-tugas kuliah yang kebanyakan memang mengharuskan menulis.

Okey, abaikan tentang gelar sarjanaku yang disebut Sarjana Pendidikan namun nyatanya aku tidak menjadi pendidik. Namun, di sisi lain ternyata aku masih diberi kesempatan untuk menemukan sebuah kesempatan. Kesempatan untuk kembali menulis dan kesempatan untuk kembali berani merajut mimpiku. Baiklah, aku teruskan kembali cita-citaku masa kecil untuk menjadi seorang penulis.

Di bulan-bulan akhir di tahun 2018, aku mulai menulis lagi. Bukan lagi menulis cerita-cerita fiksi ala anak muda yang dulu memenuhi buku catatanku. Kali ini aku menulis artikel untuk aku kirimkan ke media online. Atas izin Allah, artikelku berkali-kali dimuat dan aku mendapat bayaran untuk itu. Belum banyak, namun cukup membuatku terus bersemangat untuk tetap menulis.

Ternyata, kesempatan lain terbuka dari kesempatan yang pertama. Aku mulai mendapat pekerjaan lain, masih pekerjaan menulis. Dan semakin banyak artikel yang aku hasilkan, uang yang masuk ke rekeningku, dan makin memperlancar kemampuan menulisku. Meski aku sadar, aku belum sehebat penulis senior lain yang sudah melahirkan banyak karya luar biasa.

Resolusi 2019-ku

Aku memutuskan untuk membuat blog ini. Dengan bantuan dan semangat dari teman blogger dan penulis lainnya, aku mulai mengisi blog ini dengan ide-ideku. Harapanku untuk tahun ini, aku ingin semakin banyak memberi manfaat kepada orang lain lewat tulisanku. Aku ingin tak hanya aku yang merasakan manfaat dengan adanya blog ini, namun juga bagi banyak orang di luar sana. Lewat blog ini, aku ingin tahun 2019 menjadi tahun kebangkitan impianku untuk menjadi seorang penulis.

Ini Strategiku untuk Mencapai Resolusi 2019-ku

Salah satu upayaku adalah dengan mengikuti berbagai blog competition. Dan kompetisi blog yang diadakan oleh DUMET School ini salah satu yang aku ikuti. Di mana aku bisa terus mengikuti kompetisi ini karena ini selalu diadakan tiap bulan dengan tema yang selalu berbeda-beda.
Kesempatan menulis sudah banyak tersedia. Wadah untuk menuanhkan ide yaitu blog sudah dimiliki. Tubuh dan pikiran masih diberi anugerah kesehatan sehingga bisa tetap berkarya. So, tidak ada lagi alasan untuk menunda langkah.
Lebih dari sebuah keinginan untuk menang, aku lebih menantang diriku sendiri untuk menjadi produktif.

Ya, aku siap untuk berlari lebih kencang di tahun 2019, berlari semakin dekat kepada impianku.

Salam,

8 Jan 2019

Minyak Kutus Kutus, Minyak Ajaib untuk Berbagai Keluhan

12:56 0 Comments


Minyak Kutus Kutus, mungkin banyak yang belum pernah mendengar namanya. Memang, minyak yang berasal dari Bali ini baru-baru ini mencuri perhatian para praktisi pengobatan herbal karena khasiatnya. Dan sekarang memang pengobatan herbal menjadi primadona karena dianggap alami aman dan relatif terjangkau dibanding pengobatan secara medis.

Apa itu Minyak Kutus Kutus?

Minyak kutus-kutus merupakan minyak berbahan dasar minyak kelapa yang dicampurkan dengan berbagai tanaman herbal lainnya. Bahan-bahan yang dijadikan inti dari minyak ini selain minyak kelapa juga ada daun neem, daun ashitaba, purwaceng, bunga lawang, temulawak, pule, dan juga gaharu. Semua bahan tersebut diambil dari unsur yang disebut sebagai  pohon kehidupan meliputi daun, bunga, buah, batang, dan akar.

Minyak pertama kali dibuat oleh Servasius Bambang Pranoto pada tahun 2012 lalu di sebuah desa kecil bernama Bona yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali. Kecelakaan yang menimpanya membuat kakinya lumpuh hingga muncul keputusasaan. Dengan memanfaatkan tanaman di sekitar rumah, pria asal Klaten Jawa Tengah ini akhirnya meracik ramuan minyak. Dioleskannya minyak hasil racikannya tersebut pada kaki lumpuhnya. Hingga lama kelamaan kakinya kembali bisa difungsikan secara normal.

Setelah dirasa manfaatnya sangat besar, minyak kutus kutus akhirnya mulai diproduksi lebih banyak lalu diperjualbelikan mulai tahun 2013. Minyak khas Bali ini dipercaya dapat meningkatkan energi dalam tubuh sehingga tubuh mampu untuk melakukan self healing atau menyembuhkan dirinya sendiri.

Manfaat Minyak Kutus Kutus

Kemampuan minyak ini untuk membuat tubuh mampu melakukan self healing memang terbilang bagus. Itu artinya, minyak ini memang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan dan pengobatan. Berikut beberapa jenis penyakit yang bisa disembuhkan dengan minyak kutus kutus ini:

1. Keluhan pada Kepala

Keluhan sakit pada kepala seperti migrain dan vertigo dapat diredakan dengan mengoleskan minyak ini pada pelipis. Aromanya yang khas memberi sensasi menenangkan sehingga penderita akan menjadi rileks.

2. Pereda Nyeri

Minyak kutus kutus mengandung beberapa bahan yang mampu bekerja sebagai obat analgesik atau pereda nyeri. Manfaat yang satu ini membuat minyak kutus kutus banyak digunakan untuk meredakan gejala penyakit seperti asam urat, nyeri sendi, nyeri otot, atau nyeri haid. Untuk menggunakannya tinggal mengoleskan pada bagian tubuh yang merasa nyeri.

3. Mengatasi Masalah Kulit

Masalah kulit yang umum seperti bisul, jerawat bahkan flek hitam pada wajah, bisa berkurang dengan mengoleskan minyak ini secara teratur. Karena minyak kutus kutus mengandung antioksidan yang mampu membunuh bakteri, virus dan jamur. Namun untuk penggunaan pada wajah tetap harus berhati-hati agar tidak mengenai bagian sensitif seperti mata atau mulut.

4. Meningkatkan Vitalitas

Salah satu bahan dari minyak kutus kutus yaitu purwaceng terkenal sebagai bahan alami yang berfungsi sebagai afrodisiak atau pembangkit gairah. Karenanya minyak ini dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria maupun wanita.

5. Pereda Sakit Ringan hingga Berat

Minyak ini ampuh untuk meredakan sakit ringan seperti batuk, pilek, mabuk perjalanan, masuk angin, dan nyeri haid. Selain itu minyak ini juga berfungsi meredakan keluhan pada tulang dan otot seperti keseleo, reumatik, kram, pegal linu, encok dan sejenisnya. Tak hanya itu, berdasarkan pernyataan dari pemakainya, minyak kutus kutus juga bisa untuk meredakan sakit berat seperti jantung dan diabetes.


Meskipun penggunaan minyak ini aman untuk digunakan, tapi sangat perlu untuk tetap berhati-hati dengan penggunaan obat herbal ini. Pastikan pengguna minyak ini tidak memiliki hipersensitivitas terhadap salah satu komponen yang menyusun minyak ini. Jika pengguna memiliki masalah kesehatan yang cukup serius, maka disarankan untuk terlebih dahulu berdiskusi dengan dokter tentang penggunaan minyak ini.

Segera rasakan beribu manfaat dari minyak kutus kutus.

Salam,