8 Feb 2019

One In One Out, Sudahkah Kita Menerapkannya?

11:11 0 Comments

Setiap perempuan sepertinya sangat menyukai fashion. Perempuan identik dengan hal-hal berbau kesempurnaan penampilan. Itulah mengapa perempuan sering dikaitkan dengan kegemaran berbelanja. Belanja apa saja pasti menyenangkan bagi perempuan, terlebih berbelanja pakaian.

Bahkan perempuan seolah tidak pernah puas berapapun pakaian yang telah mendiami lemarinya. Saat melihat model pakaian terbaru, muncul hasrat yang sangat kuat untuk membeli. Meskipun ingat bahwa lemarinya hampir penuh oleh pakaian yang pada akhirnya tidak semua terpakai.

Ada juga beberapa perempuan yang memang gemar mengoleksi pakaian. Terlebih mereka yang condong ke salah satu brand tertentu dan terus saja mengejar setiap koleksi yang dikeluarkan, meskipun harganya tidak murah. Selain karena memburu gengsi akan brand tertentu, mereka juga seolah tidak bisa menahan diri untuk memiliki pakaian idaman.

Alhasil, puluhan pakaian berbagai jenis dan warna terkumpul. Tak peduli telah memenuhi tempatnya. Namun terus saja senang memburu trend pakaian terbaru yang jelas tidak akan pernah ada ujungnya.

Memang pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia. Namun bukan lagi menjadi kebutuhan, melainkan menjadi nafsu ketika membeli pakaian hanya ingin menuntaskan hasrat, ingin dipuji dan menjaga gengsi saja. Padahal setiap barang yang kita miliki pasti dan tidak mungkin tidak akan kita pertanggung jawabkan kelak.

Semua barang yang kita miliki dan kita simpan akan ada hisabnya, tak terkecuali pakaian. Blouse lucu-lucu yang kita beli karena lapar mata melihat online shop di Instagram. Jilbab berbagai model yang kita koleksi namun tidak semua terpakai. Mukena dari yang murah hingga mewah yang tidak semua kita pakai dan lebih sering berdiam di dalam lemari. Gamis, baju dalaman, bahkan pernak pernik pendukung seperti kaos kaki, inner jilbab atau handsock juga tidak akan luput dari hisab di hari akhir nanti.

Lalu bagaimana kita akan mempertanggun jawabkan semua barang yang kita beli hanya karena berdasarkan keinginan itu? Sudah siapkah kita untuk memberi jawaban atas semua itu? Sudah mampukah kita bertahan lebih lama saat hari hisab karena barang koleksi kita yang sangat banyak?

“Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad)

Duh, masih dibayangkan saja sudah terasa berat jika kita harus berdiri ratusan bahkan ribuan tahun di hari perhitungan hanya karena barang-barang yang kita beli saat masih di dunia. Astaghfirullah.

Lalu bagaimana agar semua yang kita miliki tidak memberatkan?

Sederhana saja sebenarnya. Kita tinggal merelakannya. Merelakannya untuk diberikan kepada orang lain yang juga membutuhkan. Atau jika memang sesuatu itu masih sangat layak untuk dihargai, kita pun bisa menjualnya kembali atau yang terkenal dengan istilah pre loved.


One In One Out, merupakan satu cara efektif agar kita terbiasa dengan barang yang cukup alias tidak terlalu banyak menumpuk barang. One In, bisa diartikan ketika kita ingin membeli satu barang atau pakaian. Namun sebelum membeli, harus ada syarat yang dipenuhi yaitu One Out, yang artinya mengeluarkan satu barang yang sama. Artinya, jika kita ingin membeli sebuah gamis baru, maka kita harus merelakan satu gamis lama kita untuk keluar dari lemari. Mau dijual lagi atau langsung disedekahkan, itu pilihan.

Berat? Memang. Apalagi jika kita ingin memiliki banyak barang agar bisa berganti-ganti saat memakainya. Berat, apalagi jika barang yang harus kita keluarkan adalah barang kesayangan.

Namun, bukankah hari perhitungan akan jauh lebih berat dari sekedar rasa tidak rela itu?

Yuk, mari mulai belajar untuk tidak menghambur-hamburkan rezeki untuk membeli banyak barang yang belum tentu kita butuhkan. Yuk, mulai peka untuk merasakan hasrat membeli apakah benar-benar butuh atau hanya sekedar keinginan sesaat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengendalikan diri, agar di akhirat nanti jalan kita menjadi mudah untuk menuju surga. Aamiin.

Salam,

5 Feb 2019

Cerpen: Istri dengan Wajah Semrawut

08:32 0 Comments
sumber: IG @_katahatikita

Petang itu langit kota Jakarta dihiasi rintik hujan. Gelapnya mendung hampir serasi beradu dengan gelapnya langit tanda malam akan tiba. Suara gemuruh dan kilatan cahaya semakin menambah kesan mencekam.

Seperti biasa, mendekati petang datang, se-mencekam apapun suasananya, kota besar Jakarta masih tetap saja sibuk. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan lalu lalang, dari motor, mobil hingga kendaraan besar lainnya. Semua ingin segera sampai di rumah setelah menekuni pekerjaan seharian di tempat yang mereka sebut tempat mengais rezeki.

Semua ingin segera berkumpul dengan keluarganya di rumah, melepas penat, mendapat hiburan setelah keletihan yang didapat di tempat kerja. Namun tidak dengan Ramdan. Ia justru merasa malas kembali ke rumah. Namun ia juga tidak mungkin semalaman berada di kantor dan tidur di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk menepikan motornya di salah satu kafe.

Ramdan memesan secangkir espresso. Ia ingin seruputan espresso panas bisa mengalihkan rasa penatnya sehabis bekerja, juga rasa malasnya jika harus kembali pulang. Ia memilih duduk di dekat pintu masuk sambil menikmati lantunan merdu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita.

Beberapa menit berselang, seseorang masuk dari pintu dengan tergesa-gesa. Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang hampir seluruhnya basah karena hujan. Pria itu langsung duduk di kursi yang satu meja dengan Ramdan. Sepertinya ia tak melihat jika ada Ramdan di sana.

"Oh, maaf Mas, saya enggak lihat kalau sudah ada orang di sini", kata pria itu.

"Enggak apa-apa, Mas. Kebetulan saya memang sendirian", jawab Ramdan.

"Oke, saya boleh lanjut duduk di sini kalau begitu ya? Kalau iya, saya tidak perlu cari tempat duduk lain. Sepertinya kafe ini hampir penuh karena di luar hujan".

"Silakan".

Pria itu kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan segelas coklat panas.

"Saya Fikri, Mas", kata pria itu sambil mengulurkan tangan pada Ramdan.

"Saya Ramdan", jawab Ramdan menyambut uluran tangan itu.

"Nunggu hujan reda juga ya Mas sebelum pulang?"

"Hmm, saya sebenarnya malas pulang".

"Wah, kalau begitu Mas Ramdan harus segera menikah, biar semangat saat waktunya pulang", canda Fikri sambil setengah tertawa.


"Saya sudah menikah, bahkan sudah ada dua anak".

"Oh ya? Aduh, maaf. Saya enggak bermaksud ... "

"Enggak masalah, Mas. Santai aja", sahut Ramdan dengan memaksakan senyumnya.

"Tapi kenapa harus malas, Mas? Bukannya waktu pulang itu yang selalu ditunggu-tunggu seorang suami?"

Ramdan masih terdiam.

"Maaf, Mas kalau saya terlalu banyak ingin tahu. Sekali lagi maaf".

"Istri saya tidak pernah menyenangkan saya, Mas. Setiap saya pulang, saya selalu melihat istri saya dalam keadaan yang enggak enak dipandang. Dia pakai daster lusuh, rambutnya kusut seperti enggak pernah disisir. Belum lagi wajahnya kusut, semrawut. Benar-benar membuat saya malas pulang".

Fikri masih terdiam.

"Saya inginnya setiap pulang dia menyambut saya dengan penampilan yang cantik. Saya sudah bekerja seharian penuh di kantor. Lelah dan ingin mendapat kesegaran saat di rumah. Belum lagi, rumah selalu berantakan. Bagaimana saya bisa nyaman dengan keadaan seperti itu di rumah?"

"Hmm, Mas Ramdah enggak pakai jasa asisten rumah tangga?"

Ramdan menggeleng. "Istri saya tidak bekerja, jadi buat apa saya harus menggunakan jasa orang lain untuk mengurus rumah?", lanjutnya.

"Mas Ramdan ingat enggak, dulu sebelum menikah, istri Mas Ramdan seperti apa?"

"Dia cantik, Mas. Dia langsing, kulitnya bersih, wajahnya juga cerah. Makanya itu saya jatuh cinta kepadanya dan menikahinya."

"Mas Ramdan sudah membuatnya mengandung dua anak. Dua kali itu pula dia merasakan beban berat, yang mungkin kita sebagai lelaki tidak sanggup menanggungnya. Bayangkan Mas, perutnya sangat besar dan berat waktu mengandung. Belum lagi dia harus merasakan banyak hal tidak nyaman selama 9 bulan".

Ramdan terdiam.

"Belum selesai, dia masih harus berjuang melahirkan kedua anaknya. Dia bahkantahu kalau nyawanya bisa saja melayang karena itu. Tapi dia tetap ingin melahirkan buah hati kalian. Mas Ramdan beruntung karena istri Mas Ramdan berhasil lolos dari maut. Saya lebih tidak beruntung, karena bahkan untuk melahirkan anak pertama kami saja, istri saya harus merelakan nyawanya", Fikri mulai berkaca-kaca.

Begitupun juga Ramdan. Ia yang sedari tadi mematung, mulai menunjukkan reaksi iba.

"Setelah melahirkan dengan selamat, istri Mas Ramdan masih harus mengurusnya sendirian. Sementara Mas Ramdan bekerja. Dan tidak ada jasa baby sitter yang membantunya. Belum sampai anak pertama kalian beranjak besar, datanglah anak kedua kalian. Mas Ramdan beruntung memiliki seorang bidadari dan dua malaikat kecil. Saya kehilangan bidadari saya dan bahkan malaikat kecil saya satu-satunya".

Ramdan masih terpaku seolah tak bisa mengatakan apapun.

"Seorang istri bahkan ia lebih sedkiti tidur demi menyempurnakan hari orang kesayangannya, anak dan suami. Ia tidak mendapat gaji dari siapapun, tapi ia bekerja tak kenal libur dan cuti. Ia hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah yang rasanya waktu 24 jam itu seperti kurang baginya. Saking banyaknya yang harus ia kerjakan".

"Wajar, jika saat malam tiba, yang terlihat hanya wajah semrawutnya. Se-semrawut itulah hari-harinya di rumah. Ia tak bekerja, tak menghasilkan uang dan hanya menerima uang belanja. Tapi ia pasti berusaha sekuat tenaga untuk membuat rumah kalian bersih, meski anak-anak dengan cepat bisa membuatnya berantakan lagi."

"Jika ia bisa bersantai-santai, ia pasti sempat jika hanya menyisir atau sekedar memulas bedak pada wajahnya. Kenyataannya, ia seringkali tak menemukan waktu senggang untuk sekedar mandi dengan leluasa tanpa teriakan anak dari luar yang memaksanya segera selesai mandi".

"Jika Mas Ramdan ingin melihat istri dalam keadaan cantik setiap pulang dari kantor, berikan ia bantuan untuk mengurus rumah. Atau jika itu sulit, korbankan tenaga Mas Ramdan untuk membantunya sedikit saja, agar ia tersenyum dan terlihat cantik".

Ramdan mulai menitikkan air mata. Ia merasa bersalah pada istrinya yang selalu ia lihat dengan wajah semrawut. Dalam kepalanya terbayang bagaimana dulu istrinya meringis kesakitan saat kontraksi. Pun saat istrinya mengejan hampir kehabisan suara saat melahirkan. Namun semua itu seolah tak membuatnya tersentuh.

Itu dulu. Saat ini ia telah sadar. Sadar dengan nasihat dari Fikri.

"Terimakasih sudah mengingatkanku, Mas. Mungkin aku akan terus seperti ini jika tidak bertemu denganmu malam ini".

"Segeralah pulang, Mas. Hanya kepulanganmu dengan selamat yang sangat ditunggu-tunggu oleh istrimu."

Ramdan membayar minuman pesanannya, kemudian beranjak pergi dengan tergesa-gesa. Hujan memang masih lebat, tapi keinginannya untuk pulang untuk segera meminta maaf pada istrinya ternyata lebih kuat.

4 Feb 2019

Memaksakan Diri untuk Rajin dengan Mengikuti Event SETIP "Seminggu Tiga Postingan" bersama Estrilook Community

12:32 0 Comments


Awal mula aku membuat blog ini niatnya adalah agar ada wadah untuk menulis. Karena menulis di diary seperti dulu saat masih sekolah, rasanya sudah tidak mungkin dilakukan sekarang dengan status sebagai ibu. Apalagi dengan menulis di blog, ada kemungkinan bisa dibaca oleh banyak orang. Sehingga jika apa yang kita tulis bermanfaat bagi siapapun yang membaca, maka sebagai penulis kita juga akan mendapat manfaatnya.

Selain itu, dengan menjadi blogger, kita tidak akan sendirian. Ada banyak komunitas blogger yang di dalamnya kita bisa mendapat banyak manfaat, banyak relasi dan peluang. Belum lagi jika blog yang kita buat ternyata bisa mendapatkan penghasilan dari iklan yang terpasang. Serius, tidak ada yang merugikan dari menjadi seorang blogger.

Memang semudah dan se-menyenangkan itu menjadi seorang blogger. Namun jangan dikira, tidak pernah ada masalah yang terjadi. Dan masalah terbesar adalah saat datang rasa malas. Terlebih jika sudah berstatus seorang ibu. Semua kesibukan rumah rasanya bisa saja menjadi alasan untuk malas menulis karena sudah terlalu letih. Alhasil, blog yang dibuat hanya akan dipenuhi sarang laba-laba alias kosong tidak ada isinya (baca: postingan).

Lalu bagaimana caranya agar rajin menulis, terutama mengisi blog?

Inilah jawabannya. Estrilook telah menyediakan wadah bagi para blogger agar bisa rajin dan konsisten menghasilkan konten untuk blognya setiap harinya. Diberi nama SETIP, singkatan dari Seminggu Tiga Postingan, siapapun yang ikut event ini diharapkan mampu menulis dengan konsisten hanya tiga postingan saja dalam satu minggu. Iya, hanya tiga postingan dalam waktu tujuh hari tentu saja bukanlah hal yang berat.

Motivasiku mengikuti event ini adalah dalam rangka memaksakan diri untuk menjadi rajin. Jika dulu waktu masih sekolah, ada guru yang siap mengevaluasi kerja kita, siap mendampingi, dan siap memberi tugas untuk dikerjakan, yang secara langsung memaksa kita untuk menjadi siswa yang rajin.

Sekarang sudah bukan menjadi siswa lagi. Sehingga tidak akan ada yang memaksa untuk menjadi rajin. Maka inilah caraku memaksa diriku sendiri. Karena kegemaranku menulis ini bukan permintaan orang lain, melainkan kesadaranku sendiri. Makanya tidak akan ada yang menghukum jika aku malas menulis. Pun tidak ada yang dirugikan jika hal itu terjadi.

Namun aku sadar, waktuku terus berjalan. Sayang kalau umur semakin bertambah tapi tidak ada sesuatu yang dihasilkan. Sayang jika selama hidup tidak ada jejak kebaikan yang bisa ditinggalkan. Jika bukan jejak besar yang mampu mengubah dunia, minimal ada tulisan yang bisa bermanfaat bagi siapapun yang mampir ke blog ini dan membacanya.

Karenanya, mumpung usia belum terlalu tua, mata belum terlalu samar untuk menatap layar komputer, pun jari masih sangat lincah bergerak di atas keyboard, tidak ada salahnya memaksakan diri untuk rajin dan produktif. Karena dengan mengikuti event ini, kita akan terus diingatkan untuk menghasilkan tulisan dengan cara menyetor link pada grup Facebook Estrilook Community setiap hari Senin, Rabu dan Jum'at.

Rasa malas memang manusiawi. Siapapun dan apapun pekerjannya pasti pernah berada dalam rasa malas.  Namun yang menjadi berbeda adalah, seberapa lama kita mau bertahan dalam kemalasan. Ada yang begitu menikmatinya. Ada yang dengan segera bangkit untuk bergerak. Buat kamu, aku dan siapapun yang tidak ingin diperbudak rasa malas yang lebih lama dan semakin parah, yuk segera bangkit, berdiri, bergerak, dan memulai.

Salam,

26 Jan 2019

Dia-nya Anji, Gambaran Seseorang yang Berhasil Move On

07:46 0 Comments

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari kujatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia 'ku merasa sempurna
Semua itu karena dia

Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia
Hanya padanya
Untuk dia

Pagi-pagi dengar lagu melow gini jadi ikutan melow nggak sih?
Ikutan melow sih boleh. Asal nggak keterusan jadi baper apalagi sampai mager, ya.
Nah, biar nggak mager, coba deh resapi lirik lagunya di antara musiknya yang mengalun.
Sejenak kamu akan tahu bahwa seseorang di lagu ini telah menemukan sosok baru dalam hidupnya. Sosok yang telah mengalihkan luka hatinya di masa lalu. Hingga seseorang itu bisa kembali tersenyum karena sosok yang ia sebut dengan "dia".
Sosok "dia" dalam lagu yang dipublikasikan pada 21 April 2016 ini mungkin akan membuka ingatanmu di masa lalu. Jika pernah mengalami hal serupa seperti seseorang di lagu ini, kamu mungkin akan merasa 'klik' banget sama lagu ini. Yang pernah dikecewakan orang yang tidak tepat di masa lalu, kemudian bertemu dengan sosok baru lalu dengannya kamu merasakan sempurnanya rasa, lagu ini mungkin bisa dikatakan sangat menggambarkan perasaanmu. Ah, itu artinya kamu berhasil move on. Sama seperti seseorang di lagu ini.
Kalau untuk diriku sendiri, memang benar, lagu yang diciptakan oleh Fredy Harahap ini juga sedikit banyak mewakili apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah aku rasakan #cie
Dulu kenangan tentang perasaan yang sempat terluka itu ada. Tapi bersyukurnya, datang juga sosok "dia" yang akhirnya menjawab semua penantianku. Dan dengan "dia", aku sekarang menjalani sisa hidupku.
"Dia" yang bisa membuatku jatuh cinta setiap hari. "Dia" yang menjadikanku sempurna karena dicintai. "Dia"-lah, suamiku. Dan ya, aku termasuk yang berhasil move on, sama seperti seseorang di lagu ini.
Ah, semoga semua ungkapan ini tidak terkesan gombal atau lebay.

Salam,

24 Jan 2019

Pesan Ibu: Membantu Sekuat Tenaga, Memberi Sebaik Mungkin

12:09 0 Comments

Meskipun Hari Ibu sudah terlewat jauh, semoga tulisan ini tetap mewakili perasaan bangga penuh cinta pada sosok ibu.

Ibu. Apa yang terlintas di pikiran saat mendengar kata itu? Kalau aku, langsung terbayang sosok perempuan tangguh yang aku panggil "Emak". Beliau perempuan yang telah bertaruh nyawa untuk bisa menghadirkanku ke dunia. Beliau perempuan yang darinya aku mendapatkan sumber kehidupan pertama berupa air susu. Beliau perempuan yang bahkan hingga detik ini, hingga akupun menjadi ibu, tetap mengorbankan tenaganya, pikirannya dan apapun yang dimilikinya, tanpa pernah mengharapkan imbalan.

Kasih sayangnya? Jangan ditanya lagi. Karena kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.
Pengorbanannya? Jangan ditanya juga. Kalaupun nyawanya diminta, ibu akan dengan rela memberikannya.
Doanya? Jangan juga pernah meragukannya. Karena bahkan langit saja tidak mau membatasi doa dari mulutnya untuk langsung didengar Allah.

Ibu, memang sangat tepat disebut perempuan tangguh. Bukan lagi tentang pekerjaan rumah yang sudah menjadi kewajibannya. Itu sudah pasti bisa diselesaikannya tanpa menanti bayaran atau penghargaan dari siapapun. Bahkan jika harus merelakan waktu istirahatnya untuk mengurus anak dan rumah tangga, ibu akan melakukannya meski harus menampilkan wajah sayu karena letih.

Ibu, ibuku lebih dari sekedar ibu rumah tangga. Ibuku juga mampu bekerja keras mencari uang untuk membayar biaya hidup anak-anaknya. Bukan, bukan karena ayahku tidak mampu menafkahi kami. Tapi karena ibu tak mau diam saja dan hanya berpangku tangan menunggu pemberian suaminya. Ibuku justru ingin bersama ayahku berusaha bersama, berdua, untuk kehidupan keluarga yang lebih baik. Ibu, tak pernah ingin diam sementara Beliau tahu ada banyak hal yang bisa dilakukakannya selama itu untuk kebaikan anak-anaknya.

Seperti lirik lagi dari Jasmine Elektrik ini, "ku kayuh perahu menuju pulau citaku. diiringi doa nasehat bijakmu ibu", ibu yang tak hanya membekali anak-anaknya dengan doa namun juga nasehat berharga.

Tidak akan cukup sebanyak apapun lembar kertas untuk menceritakan kebaikan ibu. Karena ibuku bukan hanya orangtua kandungku. Karena ibuku sekaligus guru kehidupanku yang mengajarkan banyak nilai-nilai penting dalam kehidupan, agar kami menjadi manusia yang baik, yang berhati dan peduli.

Ya, kepedulian ibuku pada orang lain bahkan sering membuat diriku sendiri iri. Bagaimana mungkin setulus itu berbuat baik kepada orang lain, sementara bahkan ucapan terimakasih saja sering tidak diterimanya. Bagaimana mungkin sepeduli itu terhadap orang lain, sementara saat dirinya tengah butuh kepedulian, tak ada balasan dari orang yang telah dipedulikannya kemarin. Bagaimana mungkin sesegera itu menolong orang lain, sementara saat dirinya butuh ditolong, tidak ada yang mungkin bisa dimintai.

Ternyata, pertanyaan heranku itu terjawab dengan sebuah jawaban yang akhirnya membuatku sadar bahwa hidup kita sudah ada yang menjamin. Ibu bilang, ibu berbuat baik hanya ingin mendapat balasan dari Allah, bukan dari siapapun manusia yang pernah diringkankan bebannya oleh ibuku. Ibu bilang, orang berbuat baik tidak akan pernah rugi. Hanya tidak mendapat balasan atau sekedar ucapan terimakasih saja itu sama sekali bukan masalah besar.

Yang terpenting adalah niat tulus kita. Dan biarkan Allah yang membayar atas semuanya. Karena bayaran dari Allah tentu saja tidak akan pernah bisa menandingi bayaran dari manusia, sekaya apapun dia.

Satu lagi jawaban ibu yang membuatku ingin terus berbuat baik. Ibu bilang kalaupun tidak ada balasan kebaikan yang kita terima atas kebaikan kita terhadap orang lain, pastilah anak cucunya yang akan merasakan balasannya kelak. Ya, selain selalu menyebut nama kami dalam doa, rupanya ibuku sudah menabung sikap baik yang kelak hasil baiknya akan bisa diterima anak cucunya.

Ibu bilang, "Jangan pernah berfikir dua kali untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Karena kalau bukan kita sendiri yang mendapat balasan baik, pasti anak cucu kita nanti yang akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di manapun dan kapanpun. Juga jangan ragu untuk berbuat baik, karena jika bukan kita sendiri yang menerima balasan bantuan, maka anak cucu kita yang akan dibantu"

Ibuku juga bukan orang yang bisa mudah melupakan kebaikan orang lain. Meski tak seberapa, kebaikan orang lain terhadapnya akan selalu diingatnya dan berusaha untuk membalasnya dengan balasan yang lebih kalau memang bisa. Inilah yang juga menjadi pelajaran yang terus aku ingat.

Berbuat baik identik dengan memberi. Dan dengan memberi tidak akan pernah menjadikan kita kurang. Itu juga yang dipercayai oleh ibuku. Beliau memiliki prinsip bahwa memberi harus yang terbaik.

Jika bisa memberi yang besar, mengapa hanya memberi kecil?
Jika bisa memberi yang banyak, mengapa hanya memberi sedikit?
Jika bisa memberi yang bagus, mengapa yang jelek tidak dibuang saja dan tidak perlu diberikan?
Jika mampu memberi sekarang, mengapa harus menundanya?

Ya, itulah yang menjadi pedoman ibuku yang akhirnya juga menjadi pelajaran berharga bagiku. Ibuku akan memberi sebaik mungkin yang asal Beliau bisa dan mampu. Karena dengan memberi asal-asalan, memberi yang tidak baik itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Begitu kata ibuku.

Membantu sekuat tenaga, memberi sebaik mungkin. Dua pesan itu yang tetap aku ingat dan berusaha jalankan hingga kini. Semoga bisa sekuat, sebaik, dan setulus ibu.

#JasmineElektrikCeritaIbu

Salam,

23 Jan 2019

Tentang Sebuah Pertanyaan "Trenggalek itu Mana?"

10:43 0 Comments

Beberapa waktu yang lalu, sempat ramai sebuah pertanyaan "Trenggalek itu mana?"

Itu merupakan sebuah pertanyaan. Namun kemudian berkembang menjadi sebuah jargon, jargon-nya wong Nggalek. Dan kemudian berkembang lagi menjadi tulisan yang banyak tertera di mana-mana, termasuk di kaos. Ya, dari sebuah pertanyaan itu muncullah sebuah kreativitas berupa produk pakaian dengan tulisan khas "Trenggalek Itu Mana?"

Lalu kenapa sampai ada pertanyaan seperti itu?

Ternyata, karena begitu banyaknya cerita dari orang-orang Trenggalek yang pergi ke banyak tempat. Bertemu dengan orang di suatu tempat umum, ngobrol-ngobrol, wajar dong kemudian ada pertanyaan, "Asli mana Mbak?", atau "Orang mana Mas?".

Dan saat dijawab, "Saya dari Trenggalek", you know how is the response?

Mereka mengernyitkan dahi tanda pertanyaan baru muncul, "Trenggalek itu mana ya?" atau "Trenggalek itu daerah mana sih? Kalimantan? Sulawesi?". Duh, begitu terpencilnya kah kota tempat tinggalku hingga banyak yang nggak tahu?

Yang lebih parah nih kalau ada yang merespon begini, "Oh ada ya Trenggalek tuh? Aku tahunya Tulungagung sama Ponorogo aja". Jadi kepengen garuk-garuk tembok nggak sih denger yang begitu?

Okelah, lupakan bagaimana respon mereka. Mungkin memang mereka pikniknya belum jauh dan belum sampai Trenggalek, makanya nggak tahu hihihi. Berarti tugas kita yang harus mengenalkan Trenggalek. Kita? Orang-orang Trenggalek saja maksudku hehe

Kemudian Trenggalek mulai dikenal dari beberapa tujuan wisatanya yang justru terkenal terlebih dahulu dari pada nama kotanya. Huhuhu, sedih sih, tapi di sisi lain itu juga membanggakan. Misalnya saja Pantai Prigi. Wisatawan dari luar kota lebih mengenal nama pantai itu daripada tahu bahwa pantai itu merupakan bagian dari wilayah Trenggalek.

Karena Trenggalek berada di bagian selatan Pulau Jawa, tentu saja Trenggalek punya banyak pantai. Soal keindahannya, jangan ditanya, sudah pasti bikin kamu betah menikmati pemandangannya. Nggak cuma satu, ada banyak pantai yang bisa kamu kunjungi semuanya. Dan semuanya, menawarkan keindahan masing-masing.

Pantai Pasir Putih Karanggongso Trenggalek
Nama Trenggalek juga semakin dikenal saat kota yang sebagian wilayahnya merupakan pegunungan ini dipimpin oleh sepasang Bupati dan Wakil Bupati muda. Beliau adalah Bapak Emil Dardak dan Bapak Muhammad Nur Arifin.


Kalau memperhatikan foto di atas, kamu pasti mengenali satu sosok. Ya, sosok Arumi Bachsin, seorang artis kini menjadi istri Bupati Trenggalek. Makin terkenal Trenggalek punya ibu Bupati seorang artis hehe

Trenggalek makin dikenal, tapi yang mem-bully tetap ada. Bukan, bukan bully-an yang terkesan negatif, tapi lebih ke candaan saja. Misalnya nih, Trenggalek nggak punya rel kereta, nggak punya stasiun, jadi nggak bisa ke Trenggalek naik kereta. Iya, itu betul kok hehe

Satu lagi, Trenggalek nggak ada mall, nggak kayak kota-kota lainnya. Memang itu juga betul. Ya, seperti itulah. Meskipun nama Trenggalek sudah banyak dikenal, namun tetap ada satu dua hal dari Trenggalek yang tertinggal dari kota lain di sekitarnya.

Meskipun mendengar nama Trenggalek pasti terbayang daerah pegunungan, terpencil dan ndeso, tapi Trenggalek punya beragam kebudayaan yang patut dibanggakan.

Larung Sembonyo
Salah satunya ini nih, yang mengundang banyak pengunjung setiap tahunnya. Labuh laut atau larung Sembonyo di Pantai Prigi. Tradisi ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Tradisi ini diadakan setahun sekali setiap bulan Selo (salah satu bulan dalam hitungan Jawa) pada hari Senin Kliwon.

Satu lagi, tradisi khas Trenggalek yang setiap tahun selalu digelar. Yaitu, hari raya Kupatan yang diadakan pada hari kedelapan bulan Syawal. Inilah yang menjadi daya tarik. Jika biasanya orang-orang bisa menyantap menu khas lebaran yaitu ketupat pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, maka di Trenggalek harus menunggu hari kedelapan untuk menikmati ketupat. Momen ini juga menjadi momen spesial karena sudah pasti sangat ramai. Keluarga dari luar Trenggalek akan datang pada hari ini.

Selain dua tradisi di atas, ada satu lagi tradisi khas Trenggalek. Yaitu, bersih desa Dam Bagong yang diselenggarakan pada hari Jumat Kliwon. Cerita tentang awal mula ritual bersih dam inipun masuk dalam cerita wayang klasik. Tradisi ini dilakukan dengan penyembelihan kerbau sebagai pengorbanan.

Ada tradisi khas Trenggalek, ada pula seni kebudayaan yang dimiliki Trenggalek. Sebut saja, tari Turonggo Yakso sebagai seni jaranan asli Trenggalek yang ini menceritakan kemenangan warga desa dalam mengusir marabahaya atau keangkaramurkaan yang menyerang desanya. Tarian ini selalu dibawakan setiap bulan Suro.

Ada juga seni tari Tiban yang lebih mirip dengan adu ilmu bela diri dan kesaktian. Menyaksikan pertunjukan ini, kamu akan melihat para penari saling mencambuk lawannya. Memang mengerikan, tapi ini dulunya dilakukan untuk meminta turunnya hujan.

Di sebagian wilayah Trenggalek, juga masih eksis seni tari Tayub. Tari yang diiringi gamelan lengkap ini sekarang hanya bisa ditemui di acara hajatan saja seperti pernikahan atau khitanan.

Inilah Trenggalek-ku. Mungkin belum banyak yang tahu, tapi Trenggalek memiliki banyak pesona yang bisa membuatmu jatuh cinta.

Trenggalek itu mana? Trenggalek-ku selalu di hati kemanapun aku pergi

Salam,

21 Jan 2019

Menjadi Mom Blogger, Cara Seru Berekspresi Ala Ibu Muda Zaman Now

16:56 0 Comments

Blog, aku mengenalnya mulai tahun 2009, saat baru saja aku berstatus sebagai mahasiswa baru. Iya, aku yang seorang mahasiswa baru kala itu mulai terbiasa dengan komputer dan sambungan internet guna menyelesaikan tugas-tugas ku. Sebelumnya, memang belum terlalu terbiasa dengan internet karena pada masa itu internet belum sepenting sekarang ini.

Lupa waktu itu dapat ide dari mana buat kepikiran bikin blog. Yang aku tahu cuma, aku bisa nulis dengan punya blog. Lalu jadilah akun blog dengan usaha rada ekstra karena bikin sendiri tanpa nanya ke siapapun, dan cuma berbekal pengetahuan yang terbatas. Padahal blog waktu itu sama sekali belum nge-trend kayak Facebook yang saat itu sudah mulai banyak orang tahu dan punya akun di sana. Tapi tidak masalah, tetap ada kebanggaan tersendiri karena punya blog.

Tampilan blog masih ala kadarnya karena belum paham bagaimana caranya menyetting tema, tata letak dan kawan-kawannya. Isinya? Seperti niat awal membuat blog karena ingin menulis, ya isinya tidak jauh-jauh dari cerpen ala anak muda dan puisi kegalauan. Ditambah juga beberapa puisi dalam bahasa Inggris yang menjadi tugas kuliahku. Intinya, waktu itu aku tak lagi nulis cerpen dan puisi di buku lagi seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku merasa punya wadah yang lebih keren untuk karyaku, yaitu blog.

Ya, itulah masa-masa awalku mengenal blog tanpa peduli bagaimana caranya mendatangkan banyak pengunjung ke sana. Sayang, masa perkenalan tidak berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Blog-ku akhirnya terbengkalai seiring semakin padatnya tugas kuliahku.

Hingga waktu berlalu, aku lulus kuliah, menikah dan punya anak. Masih tetap ingat pernah punya blog, tapi sayang tidak ingat email dan password-nya. Otomatis tidak bisa buka blog itu buat diisi lagi. Tapi masih bisa dibuka untuk melihat lagi tulisan-tulisannya.


Inilah Momen Pertamaku Saat Memutuskan Kembali Nge-Blog

Sudah bukan mahasiswa, dan jadi ibu rumah tangga, semakin tidak ada kesempatan buat menikmati hobi menulis. Tanpa sadar aku tetap menyalurkan hobi itu saat aku memposting status di Facebook. Kebetulan memang aku menjadi marketer untuk suatu produk yang mengharuskan untuk promosi di media sosial. Jadi kesenanganku menulis masih bisa tersalurkan melalui itu.

Dari Facebook pula lah, aku mengenal sebuah komunitas bernama Estrilook Community. Sebuah komunitas menulis yang baru terbentuk tapi ternyata isinya bukan penulis baru. Melainkan para penulis berpengalaman yang sudah menulis ribuan artikel di media online, menulis banyak buku antologi maupun karya pribadi, juga para blogger yang ternyata jam terbangnya sudah banyak. Wah, aku merasa hobiku menulis telah menemukan jalannya.

Benar saja, ada tantangan dari komunitas tersebut untuk menulis artikel selama sebulan penuh. Aku mengikutinya dan berhasil menjadi salah satu pemenang.


Semakin yakin dengan hobiku menulis, aku mulai mengirimkan artikel buatanku ke sebuah media online. Dan wow, artikelku dimuat dan itu bayaran pertamaku dari sesuatu yang aku gemari selama ini. Meskipun fee yang aku terima belum banyak, but it was so amazing karena ternyata hobiku menulis kini bisa menghasilkan.

Makin semangat, of course. Lanjut ada kelas blog dari salah satu blogger muda yang sudah cukup berpengalaman di komunitas tersebut. Momen menjadi pemenang di tantangan menulis sebelumnya itulah yang membuatku semakin yakin akan kegemaranku menulis dan tidak ragu untuk membuat blog keduaku. Pikirku, aku harus kembali punya wadah untuk menampung ide-ideku, sama seperti dulu. Alhamdulillah blog keduaku jadi. Dan kali ini blog-ku jauh lebih cantik ketimbang blog pertamaku dulu. Senangnya luar biasa. Makin berlipat semangatnya untuk kembali nge-blog.


Dan Ini Momen Keduaku

Mulai dari nol, aku kembali mengisi satu demi satu tulisanku di blog itu. Keadaannya masih sama, belum paham bagaimana caranya mengoptimalkan blog, aku cuma fokus nulis dan nulis. Dan rasanya juga masih sama, menulis itu menyenangkan. Aku mulai membagikan banyak hal di blog-ku. Karena sekarang sudah punya anak, jadi kebanyakan konten blog-ku membahas tentang perempuan, ibu dan anak, bukan lagi konten ala-ala anak muda zaman dulu hehehe.

Menjadi seorang ibu muda memang pasti akan banyak menemui hal baru. Seolah semua ingin dibagi-tahukan kepada khalayak. Semisal, pengalaman saat melahirkan, suka duka selama menyusui, hingga persiapan memberikan MPASI untuk si kecil. Dengan membagikannya melalui tulisan, pasti akan ada banyak ibu di luar sana yang mendapat manfaat. Yang belum tau, menjadi tahu. Yang belum berpengalaman, menjadi punya bekal ilmu.


Lagi-lagi sebagai ibu, tentu tidak akan habis pembahasan mengenai anak. Ada waktunya kita sebagai ibu menjadi kreatif dalam mengajarkan satu kebiasaan. Ada kalanya sebagai ibu kita menjadi lebih kritis saat memilihkan sesuatu untuk anak. Ada saatnya kita memutuskan untuk menggunakan pola tertentu dalam  mengasuh anak. Semua itu bisa kita jadikan sebuah tulisan yang pasti akan menginspirasi para ibu lainnya.

See, menjadi mom blogger adalah cara paling asyik untuk berekspresi. Kita bisa berbagi, tentu saja berbagi hal positif dengan cara yang positif pula, sekaligus belajar dari pengalaman ibu lain. Momen sebagai seorang ibu ini yang kemudian memperkuat keinginanku untuk menjadi mom blogger. Lebih seru dan makin asyik lagi jika tulisan kita mendapat tanggapan positif dari pembaca. Wah, makin semangat untuk menciptakan konten menarik lainnya.


Menjadi Mom Blogger adalah Sebuah Kebanggaan

Dengan menjadi blogger, aku bisa bersuara meski tak secara langsung. Dengan menjadi blogger, aku bisa menorehkan jejak keberadaanku. Dengan menjadi mom blogger, aku bisa berbagi dan belajar. Itu semua membanggakan. Meskipun perjalananku untuk menjadi seorang blogger profesional dengan blog keren dan penghasilan menggiurkan, itu masih panjang.

Kedepannya, di tahun 2019 ini terutama, aku semakin ingin menekuni dunia ini, dunia seorang mom blogger. Dan aku sudah memulai langkahku di awal tahun ini dengan mengikuti beberapa kompetisi blog. Dengan harapan semoga dengan menjadi blogger, aku tidak hanya memperoleh banyak manfaat untuk diriku sendiri, tapi juga menebar manfaat untuk orang lain.

Aku menyadari bahwa aku menjadi ibu muda di era digital, era di mana arus informasi dan kecanggihan teknologi berkembang pesat. Aku sadar bahwa di masa depan, anakku akan memasuki masa yang lebih canggih, dan tentunya lebih sulit. Karenanya, sebagai ibu, aku tidak ingin terlalu jauh ketinggalan zaman agar kelak aku tetap bisa menggandeng anakku di masa depan yang lebih modern.

Untuk itu aku tetap ingin belajar, semakin banyak belajar, bukan berpangku tangan dan membiarkan diriku disebut gaptek. Karena sekarang internet bisa diakses dengan mudah dan tanpa batas, itu artinya aku masih punya kesempatan belajar meskipun statusku hanya sebagai ibu rumah tangga. Aku masih bisa berbuat lebih dengan tetap menyaksikan tumbuh kembang anakku.

Benar, aku hanya di rumah. Benar, aku hanya momong anak. Tapi aku membiarkan pikiranku terbuka akan perubahan, agar aku bisa lebih banyak belajar. Jari dan ideku juga tetap bisa bergerak, merangkai untaian kalimat yang aku harap orang lain bisa mengambil manfaat darinya.

Salam,

Aku Sebut 2018-ku sebagai My Turning Point

12:25 0 Comments
foto: pexels.com
Sudah memasuki hari ke 22 di tahun 2019, di awal tahun, di bulan Januari.

Belum terlalu terlewat untuk membicarakan soal resolusi 2019. Masih banyak yang membicarakannya, bahkan masih ada yang baru memulai memikirkannya. Atau ada juga yang sudah memulai langkah pastinya.

Tapi membicarakan tentang resolusi 2019, sepertinya sudah pernah aku ceritakan di sini. Jadi sekarang membahas tentang masa lalu saja. Masa lalu yang belum terlalu lama. Masa lalu yang paling dekat. Yaitu tentang 2018.

2018, tahun di mana ada banyak sekali kejutan dan hal-hal tak terduga terjadi dalam hidupku. Meskipun kenyataannya, semua yang terjadi itu bukanlah apa yang aku rencanakan dan aku jadikan resolusi di awal tahun 2018. Alias, ya, resolusiku di awal 2018 hanya sekedar wacana, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Oke, cerita di mulai dari keluarga. Nggak ada perubahan besar dalam keluarga. Anak masih satu, belum nambah. Hanya makin gede saja dan makin banyak maunya hehe. Plus 2018 sudah mulai memikirkan untuk memasukkan anak ke sekolah. Mulai memikirkan bakalan bayar uang sekolah tiap bulan. Itu artinya harus mulai ada anggaran khusus dan nggak bisa lagi beli ini itu sesuka hati. Oke, fix, tahun 2018 adalah tahun mulai menabung.

Lanjut ke karir. Sebenarnya malu mau ngomongin karir. Secara selama 3 tahun terakhir menjadi ibu rumah tangga. Nggak ada pekerjaan di luar rumah, nggak lagi ngerasain pakai seragam dan sepatu. Yang ada, pakainya daster. Mana mungkin aku sebut ini karir?

Tapi well, nyatanya aku bisa berpenghasilan meskipun aku hanya di rumah. Iya, aku seorang leader di sebuat komunitas bisnis. Di tahun 2018, aku memiliki semakin banyak anggota tim yang membantu penjualanku. Dari sini, paling tidak penghasilanku sudah sedikit meningkat. Lebih banyak daripada saat aku menjadi guru honorer dulu. Alhamdulillah.

Dan, ada satu lagi karir yang aku mulai di tahun 2018. Karir yang tidak pernah aku impikan tapi dulu pernah aku cita-citakan. Aku mulai masuk ke dunia literasi lewat sebuah tantangan menulis artikel selama 30 hari yang diadakan oleh sebuah komunitas menulis. Di akhir tantangan, aku berhasil menjadi pemenang dan tentu saja mendapat hadiah berupa uang. Alhamdulillah, aku bisa berpenghasilan lewat jalan rezeki yang lain. Dan kali ini pekerjaanku adalah hal yang aku gemari, yaitu menulis.

prestasi pertamaku di dunia menulis ;)
Jangan tanya bagaimana rasanya! Sudah pasti aku senang karena ternyata hobiku sedari kecil itu tersalurkan ditambah aku mendapat keuntungan dari sana. Semakin semangat menulis dan semakin ingin berkarya lebih. Alhamdulillah lagi, komunitas tersebut terus memberi kesempatan untuk menulis. Hingga sudah puluhan artikelku terbit di media online tersebut dan menjadi sumber penghasilanku selanjutnya.

Selanjutnya adalah, 2018 adalah tahun di mana aku kembali menulis di blog. Kembali? Iya, aku pernah memiliki blog saat awal masuk kuliah. Blog yang waktu itu hanya untuk iseng-iseng, nulis-nulis sembarangan dan akhirnya lupa password hingga nggak bisa dibuka lagi. Akhirnya bikin blog lagi tanpa sebelumnya ngerti bakalan ada keuntungan apa dari sebuah blog.

Ternyata nge-blog itu asyik. Ketemu dengan banyak blogger, berbagi info tentang job menulis, dan satu lagi yang paling asyik, yaitu bisa ikut banyak lomba menulis. Terlepas dari seberapa banyak hadiah yang disediakan dari penyelenggara, aku hanya ingin menjadi konsisten menulis di blog. Menyimpan semua karyaku di sini, agar kelak masih bisa dilihat banyak orang meski aku tidak lagi ada :)

Masih tentang karir menulisku di tahun 2018. Aku semakin banyak menulis dan semakin banyak pula hasil yang aku dapatkan dari situ. Dengan menjalankan dua pekerjaanku ini, aku masih bisa mendapat penghasilan rutin meskipun hanya di rumah. Tak peduli sebutan penggangguran yang melekat padaku.

Inilah kenapa aku sebut tahun 2018 sebagai my turning point, titik balikku.

Karena 2018 adalah awal aku merasakan benar-benar menikmati peranku sebagai ibu rumah tangga. Setelah sebelumnya aku harus sering mendengar perkataan orang yang membicarakanku karena aku tidak bekerja. Karena aku dianggap menyia-nyiakan ijazahku yang telah susah payah aku dapatkan.

Setelah sebelumnya aku sempat bimbang untuk kembali bekerja atau tidak. Di 2018, aku telah bisa membuktikan bahwa uang tidak hanya bisa diperoleh dengan bekerja di luar. Aku tetap bisa merasakan gaji tanpa harus meninggalkan anakku seharian penuh. Ternyata Allah tidak kehabisan jalan untuk mengalirkan rezeki pada hambaNya.

Dan kejutan terbesar datang di detik-detik akhir pergantian tahun ke 2019. Iya, aku dan suami tepatnya, kami mendapat kabar bahagia pada malam tahun baru. Suamiku dinyatakan lulus CPNS. Akhir tahun yang luar biasa. Dan 2018 yang tak terlupakan.

Aku juga sebut ini sebagai my turning point. Karena sebelumnya kami memang belum dipercaya untuk mendapat amanah rezeki yang banyak. Kami memang belum bisa membangun rumah sendiri dan masing tinggal bersama orangtua. Kami juga sering dibilang hanya mengandalkan kepunyaan orangtua tanpa bisa berusaha sendiri.

Dan 2018 adalah jawabannya. Kami akhirnya diberi kesempatan untuk mengemban amanah ini. Kepercayaan dan rezeki dari Allah. Kami mensyukurinya. Sangat mensyukurinya. Itu artinya kami harus siap untuk kehidupan yang lebih membutuhkan perjuangan. Semoga Allah memberi kami kekuatan. Aamiin.

Salam,