4 Jun 2019

Menghias Jalan Menjadi Tradisi Menyambut Lebaran di Kampung Halamanku

23:03 0 Comments

Finally, malam ini adalah malam takbiran, it means Ramadan berakhir, dan Idul Fitri menjelang. Alhamdulillah, meski ada sedihnya karena ternyata Ramadan begitu cepat berlalu padahal belum banyak yang dilakukan untuk memperbaiki amal ibadah huhuhu.

Semoga Allah berikan kesempatan lagi untuk bertemu dengan Ramadan tahun depan, dengan kesehatan lahir batin beserta keluarga lengkap tanpa terkecuali, aamiin.

Sejak 10 hari terakhir Ramadan, sebenarnya sudah sangat banyak persiapan yang dilakukan menjelang Idul Fitri. By the way, kira-kira kenapa ya Idul Fitri begitu disambut dengan penuh suka cita? Padahal Idul Fitri bukan satu-satunya hari besar umat Islam lho. Sampai-sampai semua serba baru, pekerjaan apapun diliburkan, yang kerja jauh pun rela pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama orang terkasih.

Karena, sebenarnya Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi umat Islam yang setelah sebulan menjalani ibadah puasa, sebagai ajang latihan diri, memerangi hawa nafsu, menahan keinginan duniawi, dan lebih memfokuskan diri untuk memperbaiki amal ibadah. Begitu seharusnya kemenangan dirayakan. Maka jika sudah menang, selanjutnya adalah waktunya mengaplikasikan hasil latihan, bukan malah di bulan lain semakin kendor ibadahnya.

Nyatanya, kemenangan itu bukan hanya milik mereka yang sudah berjuang memerangi hawa nafsu selama satu bulan. Bahkan mereka yang beragama Islam namun tak melaksanakan kewajiban puasa, juga ikutan merayakan kemenangan. Nah bagaimana tuh? Ya, semoga kita bukan termasuk orang yang merayakan kemenangan atas perjuangan orang lain.

Balik lagi ke soal menyambut lebaran, ada banyak hal yang dipersiapkan, mulai dari baju baru, kue khas lebaran, masakan spesial lebaran, uang THR untuk dibagi-bagikan, dan lain sebagainya. Selain semua persiapan yang secara umum dilakukan oleh semua orang yang merayakan Idul Fitri, ada tradisi khusus menyambut lebaran di berbagai wilayah. Umumnya, enggak akan sama antara satu daerah dengan daerah lain dan tradisi inilah yang menjadi daya tarik serta magnet yang membuat siapapun yang sedang berada di kejauhan langsung rindu ingin merayakan lebaran di kampung halaman.

Di kampung halamanku, kecamatan Durenan kabupaten Trenggalek, ada satu tradisi unik tiap menyambut lebaran yaitu menghias jalan. Beberapa hari menjelang lebaran, semua warga disibukkan dengan kegiatan mendesain hiasan untuk dipasang di tepi jalan. Umumnya, hiasan tersebut berupa kain warna-warni, penempatan gapura berbahan bambu di beberapa jalan masuk, hingga pemasangan lampu warna-warni yang akan menambah semarak malam saat Idul Fitri.

Tradisi ini termasuk belum lama dijalankan. Meski belum lama, setiap tahunnya kini lebaran selalu berlalu dengan penuh suka cia dengan berbagai macam hiasan di tepi jalan. Bahkan tradisi ini pernah dilombakan antar kampung se-kecamatan. Hingga kini, jalanan kampungku menjadi jalanan dengan penuh warna ceria dan gemerlap lampu di setiap malam menjelang lebaran hingga setelah hari kedelapan Idul Fitri.






Seperti itulah kemeriahan kampung halamanku Durenan dalam menyambut lebaran setiap tahunnya. Kemeriahan ini semoga akan tetap terjaga di Idul Fitri selanjutnya. Dengan begitu, suasana Idul Fitri yang penuh suka cita menjadi semakin kuat dan menimbulkan kesan baik yang mendalam.

Salam,

Biar Hemat, Bikin Sendiri Saja Jajanan Lebaran, Mudah dan Enak

20:11 0 Comments

Salah satu yang menjadi kesibukan hampir semua orang menjelang lebaran adalah mempersiapkan jajanan lebaran. Menyediakan jajanan ini adalah untuk persiapan menyambut tamu yang datang bersilaturahmi saat lebaran. Ada beberapa jajanan khas yang hanya ada waktu lebaran. Sebut saja berbagai macam jenis kue kering seperti nastar, putri salju, lidah kucing, kue kacang atau kastengel.

Jajanan tersebut dihidangkan di dalam toples atau wadah khusus dan disajikan di meja ruang tamu. Enggak cuma sejenis atau dua jenis, satu meja bisa berisi berbagai jenis kue kering atau jajanan lainnya. Bisa dipastikan, di hampir semua rumah yang penghuninya merayakan hari Raya Idul Fitri pasti menyediakan jajanan di meja tamunya.

Maka enggak mengherankan jika permintaan akan jajanan lebaran selalu meningkat menjelang Ramadan, selama Ramadan dan mendekati lebaran. Peluang ini dijadikan kesempatan meraup keuntungan bagi banyak orang. Yang artinya, muncul banyak pedagang musiman yang menjajakan berbagai kue kering untuk lebaran. Memang, peluang ini sangat menjanjikan dan berpotensi mendapat keuntungan yang besar.

Namun, yang namanya emak-emak dengan jiwa hemat yang sudah otomatis menyertai, pasti lebih memilih cara hemat untuk apapun termasuk dalam hal menyiapkan jajanan lebaran. Jadi, dari pada beli yang juga harganya lumayan mahal, aku pilih untuk bikin sendiri beberapa kue lebaran. Ini sudah aku lakukan selama beberapa tahun terakhir dan terbukti bisa menghemat anggaran di tengah kebutuhan menjelang lebaran yang selalu tinggi.

Hanya berbekal browsing resep dari Google, dan dengan sedikit tambahan, jadilah 3 jenis jajanan khas lebaran yang rasanya enggak kalah sama jajanan beli di toko.


Kue Kacang


Kue kacang ini termasuk jajanan lebaran yang cara bikinnya sangat mudah. Siapapun sepertinya bisa membuat asal menganut resep dan cara membuat yang tepat. Resep ini aku dapat dari Cookpad. Hasilnya sesuai ekspektasi, enggak keras, enggak pula terlalu empuk dan dengan rasa manis yang pas. Karena ingin membuat lebih banyak, maka bahannya dikalikan sesuai jumlah yang diinginkan. Yang tertulis di bawah ini adalah resep asli.

Bahan-bahan:

200 gram tepung terigu 
100 gram kacang tanah 
100 ml minyak goreng 
100 gram gula halus 
1 sendok teh vanili bubuk 
1/4 sendok teh garam 
1 butir kuning telur

Cara Membuat:

  • Kacang tanah disangrai dan dihilangkan kulit arinya.
  • Haluskan kacang tanah dengan cara diblender.
  • Campurkan kacang tanah yang telah halus dengan telur, gula halus dan vanili.
  • Setelah rata tambahkan tepung terigu.
  • Setelah rata tambahkan juga minyak goreng.
  • Uleni hingga kalis dan siap dibentuk.
  • Setelah dibentuk, olesi bagian permukaan dengan kuning telur lalu panggang.
  • Setelah beberapa menit, keluarkan kue kacang dari dalam oven untuk kembali diolesi kuning telur. Dua kali pengolesan ini bertujuan untuk membuat permukaan kue kacang menjadi lebih berkilau, enggak kusam.
  • Setelah itu panggang hingga matang.


Kue Putri Salju


Selain kue kacang, putri salju juga salah satu kue kering yang cara membuatnya sangat mudah. Prosesnya pun cepat dan enggak akan menghabiskan waktu, kecuali jika membuatnya dalam jumlah banyak. Resep ini juga aku dapat dari internet dengan sedikit tambahan. Rasanya mirip sama yang dijual di toko itu, enak banget.

Bahan-bahan:

200 gram tepung terigu, ayak
30 gram tepung maizena, ayak
200 gram margarin
3 kuning telur
50 gram keju cheddar parut
1/4 sendok teh garam
Gula halus atau gula halus mint untuk taburan

Cara Membuat:

  • Kocok margarin hingga lembut, masukkan telur dan kocok terus hingga mengembang.
  • Masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu dan tepung maizena. Aduk hingga rata.
  • Masukkan keju cheddar dan garam. Aduk hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk.
  • Cetak dan susun adonan yang telah dicetak di atas loyang yang sudah dioles dengan mentega.
  • Panggang kue hingga matang.
  • Keluarkan kue, dinginkan dalam suhu ruangan.
  • Saat kue sudah dingin, beri taburan gula halus. Susun dalam toples dengan tutup rapat.


Madu Mongso


Entah ini makanan khas daerahku atau bagaimana. Makanan ini hampir selalu ada setiap acara pesta pernikahan dan juga saat lebaran. Jajanan lebaran yang satu ini memerlukan proses panjang dalam pembuatannya. Sepertinya pembuatnya juga harus berpengalaman karena cukup rumitnya proses bisa menyebabkan kegagalan. Oiya, ini resep dari keluarga ya, bukan dari Cookpad hehehe

Bahan-bahan:

1000 gram ketan putih
5 sdm ragi tape
2 liter santan
500 gram gula merah

Cara Membuat:

  • Pertama, harus membuat tape ketan dulu dengan mengukus ketan lalu menaburinya dengan ragi dan membiarkannya selama sehari semalam.
  • Tape yang sudah matang kemudian dicampurkan dengan santan dan gula merah serta dimasak di atas api sedang.
  • Aduk terus hingga adonan mengental dan agak mengeras tanda sudah matang.
  • Setelah matang, angkat lalu dinginkan dan bungkus dengan plastik.

Nah, itulah 3 jenis jajanan lebaran yang tahun ini bikin sendiri. Lumayan, bisa mengirit banyak budget dan hasil bikinan sendiri tentunya lebih enak :)

Salam,

3 Jun 2019

Doa dan Harapan di Penghujung Ramadan 2019

09:47 0 Comments

Hari ini sudah hari ke-29 bulan Ramadan. Artinya hanya dalam hitungan jam, Ramadan akan berakhir dan segera kita akan temui bulan Syawal, hari raya Idul Fitri, insyaallah. Ramadan enggak hanya meninggalkan kenangan tentang rutinitas ibadah dan aktivitas lainnya yang tentu berbeda dari bulan lainnya. Ramadan pergi juga dengan meninggalkan doa dan harapan.

Apalagi bulan Ramadan adalah bulan di mana semua doa begitu mudah dikabulkan. Allah memberikan keutamaan berupa lebih banyak waktu mustajab untuk berdoa. Karena itulah, di penghujung Ramadan ini harusnya enggak menjadi waktu yang sia-sia dan lebih diisi dengan banyak doa dan harapan untuk semua kebaikan.

Semoga Bertemu Ramadan Selanjutnya

Siapapun itu, pasti ingin selalu bertemu dengan Ramadan. Doa ini juga menjadi doa yang selalu dipanjatkan dan menjadi harapan semua orang. Ingin bertemu dengan Ramadan selanjutnya, itu artinya kita berdoa dan memiliki harapan semoga usia kita dipanjangkan oleh Allah. Dan semoga Allah masih bermurah hati memberikan kesempatan itu untuk kita. Apalagi kalau bukan untuk kembali mendapat keutamaan Ramadan yang merupakan bonus dari Allah di antara 11 bulan lainnya.

Bukan hanya untuk diri sendiri, doa dan harapan untuk bertemu Ramadan selanjutnya juga pasti kita panjatkan untuk keluarga, saudara dan semua orang yang kita kasihi. Akan kurang kebahagiaan kita tentunya, jika kita sendiri masih menemui Ramadan sementara tanpa kehadiran mereka yang kita cintai. Jadi, doa dan harapanku di penghujung Ramadan ini semoga Allah memberikan kesempatan lagi untuk menemui Ramadan selanjutnya dengan semua keluarga lengkap dan sehat wal afiat. Aamiin.


Semoga Tetap Isiqomah di Bulan Berikutnya

Doa dan harapan ingin bertemu Ramadan berikutnya, bukan berniat hanya untuk rajin beribadah di bulan istimewa itu saja. Keberkahan Ramadan dapat diraih jika di bulan setelah Ramadan, rutinitas ibadah enggak berkurang, malah justru bertambah dan semakin istiqomah. Itulah yang sering terlupakan untuk kita panjatkan dalam doa di bulan yang mustajab ini.

Maka dari itu, semoga kita enggak terlupa untuk menyelipkan doa ini di antara doa dan harapan kita di penghujung Ramadan ini. Semoga Allah tetapkan hati kita selalu istiqomah dalam beribadah dan kalau bisa bertambah semangat dan intensitas ibadahnya. Sehingga kita akan mendapati diri kita menjadi umat Allah yang lebih baik, bukan hanya sekedar rajin saat bulan Ramadan saja.


Semoga Allah Ampuni Dosa Kita

Satu hal yang paling penting adalah pengampunan dari Allah. Kita tentu menjadi manusia dengan segala keterbatasan yang membuat kita mungkin telah banyak melakukan dosa dan kesalahan. Maka di penghujung Ramadan ini, doa dan harapan untuk pengampunan dari Allah juga sudah harus kita selipkan dalam daftar doa. Enggak ada gunanya Allah berikan kita kemudahan dalam hal rezeki jika nyatanya ada dosa kita yang belum diampuni. Pun enggak ada gunanya kita telah melewati serangkaian ibadah selama satu bulan, jika saat Ramadan selesai kita masih menanggung dosa yang belum termaafkan.


Semoga Allah Karuniakan Kedamaian untuk Negeri Ini

Setiap waktu di bulan Ramadan ini menjadi waktu paling baik untuk berdoa. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini buat enggak turut mendoakan negeri kita tercinta, Indonesia. Belakangan sudah banyak kejadian menimpa negeri ini dan menyisakan kesedihan mendalam serta kekecewaan. Indonesia hampir saja terpecah dengan banyaknya isu yang saling menyudutkan, saling menyerang bahkan saling menjatuhkan. Di bulan yang penuh berkah ini, Allah pasti dengarkan doa kita yang meminta kedamaian untuk negeri tercinta ini. Semoga Allah hindarkan Indonesia tercinta kita dari perpecahan. Aamiin.


Itulah sederet doa dan harapan di penghujung Ramadan 2019 ini. Mari kita maksimalkan sisa waktu Ramadan untuk memanjatkan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya doa buka hanya untuk kita, untuk keluarga, untuk orang-orang yang kita sayangi dan juga untuk negara tercinta kita, Indonesia.

Salam,

2 Jun 2019

Momen Terbaik Ramadan Ini Saat Allah Berikan Kesempatan untuk Berbagi Lebih Banyak

09:27 0 Comments

Hanya dalam hitungan hari, Ramadan akan berakhir. Bulan istimewa dengan begitu banyak keutamaan itu akan berlalu dan pasti kembali lagi setelah 11 bulan kemudian. Ramadan pergi selalu dengan meninggalkan banyak kenangan indah yang tak terlupakan. Momen terbaik Ramadan itu sudah pasti dimiliki semua orang.

Di samping momen terbaik, semua kegiatan selama Ramadan jelas akan meninggalkan kerinduan. Mulai dari syahdunya suasana saat makan sahur, hingga hangatnya momen berbuka puasa bersama keluarga atau orang-orang terdekat lainnya. Pergi shalat tarawih, aktivitas mengaji Al-Qur'an juga menjadi yang dirindukan dari Ramadan.

Selain itu, banyak momen lain yang menjadi saat terbaik di Ramadan tahun ini. Salah satunya adalah momen buka puasa bersama. Buka puasa bersama ini memang selalu menjadi agenda wajib di bulan puasa setiap tahunnya.

Pertama adalah buka puasa dengan keluarga besar. Biasanya acara ini diadakan di hari-hari terakhir bulan Ramadan. Karena memang banyak di antara keluarga yang masih sekolah atau bekerja sehingga kami mencari waktu di saat sudah libur menjelang lebaran. Acara ini di tahun-tahun lalu diadakan di rumah nenek. Namun tahun ini berbeda karena diadakan di rumah budhe bersamaan dengan acara peringatan meninggalnya paman kami.

Kedua adalah buka puasa dengan teman. Meski banyak sekali teman, tapi yang mengajak buka bersama cuma teman kuliah hehe. Itupun selalu melalui proses perundingan panjang. Tahun lalu acara ini berhasil diadakan. Sayang, tahun ini harus batal karena kesibukan masing-masing. Meski batal, akhirnya tetap terlaksana meski hanya bertiga. Kurang ramai, tapi lumayan untuk menjalin silaturahmi dan banyak ngobrol dengan mereka yang juga lama enggak bertemu.


Ketiga, tahun ini, kami sekeluarga menerima banyak kepercayaan dari Allah SWT. Utamanya suamiku yang tahun ini diberi kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah melalui banyak macam test dan bersaing dengan ribuan orang.

Kepercayaan itu sekaligus mendatangkan kepercayaan lain berupa lebih banyaknya pendapatan yang kami peroleh. Sebagai rasa syukur kami atas hal itu, kami merasa perlu berbagi lebih banyak dengan orang-orang terdekat kami.

Bagi kami itulah momen terbaik selama Ramadan tahun ini. Jika sebelumnya kami belum mampu berbagi lebih banyak, maka tahun ini kami bisa melakukannya. Tentu lagi-lagi ini berkah Ramadan dan kemurahan Allah SWT.

Semoga cerita ini bukan dinilai sebagai riya'. Semoga Allah SWT jaga hati kami dari niat yang tidak tulus.

Salam,

Ramadan Tahun Ini, Buka Bersama Bareng Teman Bertiga Saja di Pandowo Coffee House

08:49 0 Comments

Buka bersama selalu menjadi agenda rutin tiap Ramadan tiba. Rencana itu selalu sudah terpikirkan sejak awal Ramadan. Namun seringkali rencana itu hanya sebatas menjadi obrolan di grup-grup alumni, tanpa pernah menjadi nyata. Istilah kerennya, hanya sebatas wacana. Sedih memang, di satu sisi ingin bertemu dengan teman-teman. Di sisi lain, sering ada hal yang akhirnya membuatnya urung jadi nyata.

Mulai dari teman SD hingga kuliah, yang masih paling intens berkomunikasi adalah teman kuliah. Mungkin karena pertemanan itu belum terlalu lama. Meski enggak dengan semua teman kuliah masih terus berkomunikasi, minimal masih pada punya akun medsosnya lah ya. Jadi kadang masih bisa say hello kalau ketemu di medsos.

Di antara puluhan teman sekelas waktu kuliah, memang pasti ada beberapa orang yang paling dekat. Yang paling sering bareng berangkat maupun pulang kuliah. Yang paling sering duduk sebelahan kalau di kelas. Yang paling sering makan bareng, tidur bareng, jalan bareng. Sama yang paling sering dicurhatin hehehe

Besties lah istilah gaulnya. Sampai rasanya sudah seperti saudara perempuan meski tanpa ikatan darah. Dan bahkan yang sampai lulus kuliah pun, tetap menjadi yang paling dekat dan paling sering berbagi kabar. Satu lagi, yang juga selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup. Pas galau karena jomblo selalu ada, pas sudah menjelang menikah juga selalu ada, yang hadir paling awal dan paling lama di pesta pernikahan, pun yang juga memberi selamat ketika sudah resmi jadi ibu alias melahirkan.

aku yang tengah ya :D
Well, akhirnya buka bersama tahun ini hanya bertiga, dengan mereka berdua, tanpa ada bestie-bestie lain. Karena ya, lagi-lagi soal perjalanan hidup yang mengharuskan mereka kebanyakan harus tinggal berjauhan. Kita bertiga yang terdekat, kita bertiga lah yang akhirnya bisa buka bareng.

Kita (eh bukan, tepatnya salah satu di antara kita) memutuskan untuk memilih Pandowo Coffee House sebagai tempatnya. Ini enggak perlu perundingan panjang karena bisa-bisa gagal lagi kalau kebanyakan diskusi. Cuma bertiga juga sih, jadinya apa-apa dibikin simpel dan mudah saja.


Itu tempatnya ya. Hasil nyomot dari Instagramnya Pandowo Coffee House. Karena waktu kita bertiga enggak lama, dan kita belum sempat mengambil banyak foto dari berbagai sudut. Lebih tepatnya kita terlalu fokus ngobrol dan melupakan gadget wkwkwk

Lokasinya ada di desa Durenan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kafe ini dulunya sudah pernah beberapa kali pindah lokasi. Tapi beberapa kali pindah pun, tetap rame nih kafe. Keren.




bagian teras samping

bagian dalam
kalau ini bagian halaman luar dan depan

Seperti kafe-kafe lainnya, kalau bulan Ramadan gini selalu menyediakan paket menu khusus berbuka puasa. Pandowo Coffee House pun demikian.

hari itu menunya Wingcun Renyah
kita cuma berempat (aku ngajak suami) jadi ikut paket grup bukber lain
ini dia menu berbuka kami
dan ini menu pesanan tambahannya

Kafe ini memang lokasinya di desa, jadi harganya cukup terjangkau. Apalagi sasarannya adalah anak-anak muda. Jadi menunya pun dibuat kekinian dengan harga yang enggak terlalu mahal. So far, kita merasa puas berbuka di kafe ini. Pilihan makanannya banyak dan tempatnya so cozy. Satu lagi, kafe ini punya banyak spot foto yang kece.

Waktu berbuka kami sangat singkat. Setelah selesai makan kami pun langsung beranjak, shalat maghrib lalu pulang. Meski merasa belum puas ngobrol, minimal di bulan yang baik ini silaturahmi kami tetap terjalin. Semoga dalam waktu dekat ada waktu buat ngobrol lagi. Atau tahun depan semoga bisa buka bareng lagi dengan lebih banyak teman.

Itulah cerita berbuka bersama teman di bulan Ramadan tahun ini. Cuma bertiga, kurang rame, tapi tetap seru.

Salam,

1 Jun 2019

Mengisi Waktu Selama Ramadan dengan Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN

14:27 0 Comments

Ramadan menjadi bulan yang istimewa dengan semua keutamaannya. Bulan yang suci ini hadir dengan keutamaan berlipatnya pahala untuk semua amal ibadah yang dilakukan. Amal ibadah yang hukumnya sunah akan diganjar pahala seperti ibadah wajib di bulan ini. Sedekah dalam jumlah sedikit akan terhitung banyak. Membaca Al-Qur'an meski akan diberikan pahala besar bahkan untuk setiap huruf yang terucap. Hingga Lailatul Qodar, satu malam yang akan dihitung seperti 1000 bulan beribadah.

Mengisi waktu selama Ramadan memang sangat dianjurkan dengan berbagai amalan ibadah. Seperti melakukan shalat sunah sesering mungkin, membaca Al-Qur'an lebih rutin, dan sedekah lebih banyak. Karena memang keistimewaan ini hanya datang sekali di antara 11 bulan lainnya. Di bulan Ramadan ini juga dua rukun Islam sebagai ibadah wajib harus dilakukan yaitu puasa dan membayar zakat.

Selama bulan Ramadan ini, selain memaksimalkan waktu untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala, penting juga untuk selalu menjadi pribadi yang produktif. Jangan sampai puasa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan enggak menghasilkan apapun sepanjang hari selain rasa lapar dan haus. Maka aku memutuskan untuk menjadi bagian dari sebuah tantangan yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network (BPN).

Tantangan tersebut bernama Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN.

sumber foto: Instagram @bloggerperempuan



Dan inilah alasanku mengikuti tantangan ini:



Melatih Kreativitas

Alasan ini menjadi alasan pertamaku mengikuti tantangan ini. Kenapa? Karena sekarang ini aku sudah bukan anak sekolah atau anak kuliah. Aku sekarang adalah ibu rumah tangga dengan semua kerepotan urusan rumah, anak dan suami setiap harinya. Aku merasa otakku jadi kurang kreatif karena tiap hari ketemunya sama cucian, jemuran, masakan dan tiduran hehehe. Mungkin mikirnya agar terlalu keras kalau sudah menyangkut soal keuangan. Ya meskipun enggak terlalu memeras otak karena enggak akan ada rumus alogritma dan kawan-kawannya.

Beda dengan dulu saat masih sekolah atau kuliah yang tiap hari otak dimasuki pelajaran dan ilmu baru. Belum lagi tugas yang juga setiap hari ada dari pengajar yang berbeda. Mau enggak mau otak akan terus diperas untuk berfikir menyelesaikan tugas tersebut. Tantangan dari Indscript Creative ini mau enggak mau juga membuatku jadi berpikir, mencari ide dan berusaha menuangkannya dalam tulisan.




Mengukur Kemampuan

Alasan mengikuti Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN yang kedua adalah untuk mengukur kemampuan. Alasan ini juga masih berhubungan dengan alasan pertama yaitu menyangkut kinerja otak. Meskipun menulis blog itu bukan perkara yang terlalu sulit, tapi tetap membutuhkan pemikiran yang lebih.

Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN ini dilangsungkan selama 30 hari dengan tema yang berbeda di masing-masing hari. Temanya masih seputar Ramadan karena diadakan di bulan tersebut. Ke-30 tema yang diberikan itu tentu saja enggak semua dikuasai. Bisa jadi karena kecenderungan minat ada di bidang lain. Karena itulah aku menyebutkan alasan keduaku adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuanku terhadap pemahaman tema-tema yang diberikan.


Melatih Disiplin

Melatih disiplin aku sebut sebagai alasanku mengikuti Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN yang ketiga. Menjadi seorang ibu rumah tangga memang membuat jam kerja rutin terbentu secara alami. Bayangkan saja, memasak harus selesai sebelum jam 7 karena anak dan suami harus berangkat sekolah. Mencuci, jemur dan melipat pakaian harus segera selesai pula karena seragam suami harus segera dipakai lagi. Secara enggak langsung sudah otomatis disiplin.

Namun kadang masih merasa kurang disiplin kalau lagi keenakan mainan medsos, scrolling Facebook dan Instagram yang membuat waktu sangat cepat berlalu. Kebiasaan yang kurang penting itu kemudian jadi sedikit berkurang karena adanya tantangan ini. Karena ingat, semua tema harus ditulis tanpa ada yang boleh terlewat jika ingin menyelesaikan tantangan ini. Sayang kalau sudah memulai namun enggak bisa selesai dengan sempurna.


Menjadi Produktif

Meskipun setiap hari berkutat dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, rasanya kok ada yang kurang ketika enggak menghasilkan apa-apa. Padahal sebenarnya ada sih yang dihasilkan. Ada masakan yang siap disantap keluarga, ada rumah bersih karena disapu, ada baju bersih yang sudah dicuci. Tapi itu semua enggak cukup. Harus ada yang dihasilkan dan bisa dibagikan ke banyak orang, yaitu dengan tulisan.

Alasan mengikuti Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN ini juga karena aku ingin produktif. Apalagi di bulan puasa ini yang biasanya identik dengan bermalas-malasan yang tiada guna. Maka menulis adalah caraku untuk bisa tetap produktif. Ditambah, tulisanku bisa aku bagikan ke akun media sosialku dan orang lain bisa membacanya. Semoga tulisanku yang sederhana itu menjadi manfaat bagi mereka.


Optimasi Blog

Optimasi blog menjadi alasan mengikuti Tantangan Ramadhan: 30 Hari Menulis Blog dengan BPN yang terakhir. Mengapa yang terakhir? Padahal banyak blogger menggunakan alasan ini sebagai alasan yang pertama agar bisa memaksimalkan blog-nya dan mendapatkan keuntungan dari sana. Karena sebenarnya, niat awal aku membuat blog ini hanya sebagai sarana untukku menyalurkan hobi menulis.

Dengan punya blog, minimal aku punya media untuk menuangkan hasil ide kreatif dan pemikiranku. Agar juga bisa dibaca banyak orang, enggak seperti buku harian zaman dulu yang cuma tersembunyi di lemari atau di bawah bantal. Intinya adalah, aku bisa berkreasi dengan leluasa melalui blog ini. Soal kemudian blog ini membawa keuntungan materi, aku anggap itu bonus.

Namun sayangnya, karena niat awal yang cuma ingin sekedar menulis itulah membuatku enggak konsisten merawat blog ini. Apalagi blog ini sudah memiliki top level domain yang juga dibeli dari hasil menulis. Sayang sekali sebenarnya jika kurang dioptimalkan. Maka dari itu, tantangan ini membuatku harus menulis lebih banyak untuk mengoptimalkan blog ini.




Well, mengisi waktu selama Ramadan itu memang bisa dengan berbagai cara. Pun juga akan memberikan berbagai hasil tergantung niat dan jenis kegiatan apa yang kita lakukan. Semoga di akhir Ramadan kita mendapati diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, dan mendapat kesempatan lagi bertemu Ramadan tahun depan. Aamiin.


Salam,


30 May 2019

7 Tradisi Lebaran Paling Melekat di Masyarakat Indonesia Ini Selalu Bikin Kangen

06:48 0 Comments

Indonesia kaya akan budaya dan tradisi di masyarakatnya. Tradisi dan budaya yang berbeda hadir karena pengaruh letak geografis dan kebiasaan masyarakat. Tak terkecuali tradisi bulan Ramadan yang memiliki keunikan khas masing-masing di tiap daerah di seluruh Indonesia. Mulai dari kebiasaan ngabuburit, kebiasaan berbuka puasa hingga kebiasaan berburu takjil.

Bukan hanya bulan Ramadan yang penuh dengan tradisi khas orang Indonesia. Perayaan hari kemenangan setelah puasa juga tak luput dari beragam tradisi khas yang unik. Tradisi lebaran ini kemudian menjadi kebiasaan turun menurun yang terus dilakukan. Hingga menjadi hal yang paling dirindukan, terutama bagi mereka yang saat hari raya sedang berada di tempat yang jauh.

Inilah 7 tradisi lebaran orang Indonesia yang selalu bikin kangen:


Mudik

sumber foto: pexels
Mendengar kata mudik, pasti langsung teringat dengan hari raya Idul Fitri. Karena memang kebanyakan orang melakukan mudik saat lebaran hampir tiba. Berita tentang mudik ini juga selalu menjadi berita utama di berbagai tayangan berita televisi. Bahkan persiapan mudik misalnya saja pembelian tiket transportasi sering dilakukan sebelum Ramadan tiba.

 Baca juga: Tips Mudik Santai dan Menyenangkan dengan Membawa Bayi atau Balita

Mudik menjadi momen yang paling ditunggu bagi mereka yang bekerja di daerah yang jauh dari rumah asal. Umumnya, pekerja ini memperoleh jatah libur lebih lama saat lebaran tiba. Jatah libur ini yang kemudian dimanfaatkan untuk mudik dan bertemu dengan orang-orang yang dikasihi.


Baju Baru

sumber foto: pexels
Satu lagi tradisi lebaran khas orang Indonesia, yaitu memakai baju baru. Entah tradisi ini juga berlaku di negara lain atau enggak. Yang jelas, berburu pakaian baru selalu menjadi kegiatan penting bagi orang Indonesia saat menjelang lebaran. Enggak heran jika toko baju selalu penuh di hari-hari terakhir. Pun juga dengan penjual baju online dan marketplace yang mendulang keuntungan tinggi saat mendekati lebaran.

Bukan cuma baju, item yang lain juga kalau bisa baru. Sepatu baru, jilbab baru, sarung baru bahkan kalau bisa perabot rumah juga baru agar saat keluarga berkunjung untuk bersilaturahmi, rumah terasa nyaman.


THR

sumber foto: pexels
Satu hal yang selalu dinantikan saat menjelang lebaran adalah THR alias Tunjangan Hari Raya. THR ini umumnya diterima oleh pekerja dari tempatnya bekerja baik berupa uang atau barang. Karena THR bisa dikatakan sebagai bonus, maka wajar jika kehadirannya selalu dinantikan.

Baca juga: 4 Cara Bijak Mengatur Uang THR, Agar Bermanfaat Secara Luas

Bukan cuma THR yang diterima pekerja, tradisi ini juga menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Saat lebaran, anak-anak selalu turut mendapatkan THR dari para orang tua. Lebaran menjadi saat paling ditunggu bagi anak-anak karena mereka bisa mendapatkan banyak uang dari pemberian tersebut.

 

Takbir

sumber foto: pexels
Tradisi takbir ini juga menjadi tradisi lebaran yang melekat di masyarakat Indonesia. Malam lebaran, di mana-mana terdengar riuh suara takbir. Suara ini begitu syahdu dan enggak berlebihan jika dibilang ini yang paling bisa bikin rindu suasana lebaran. Takbir ini dulunya sering dilakukan anak-anak dengan berkeliling sekitar rumah sambil membawa obor. Kemudian, tradisi takbir mulai berkembang menjadi takbir keliling oleh orang-orang dewasa menggunakan kendaraan tertentu. Namun belakangan tradisi takbir keliling ini dilarang oleh aparat berwajib karena alasan keselamatan.
 

Bersilaturahmi dan Bermaaf-maafan

sumber foto: pexels
Idul Fitri identik dengan bermaaf-maafan agar setiap pribadi kembali suci, tanpa dosa layaknya seorang bayi yang baru lahir. Bermaaf-maafan dilakukan dengan saling menjabat tangan dan mengucapkan permintaan maaf, kepada orangtua, keluarga, saudara, tetangga dan siapapun.


Baca juga: Zaman Makin Modern, Keutamaan dan Nilai Silaturahmi Turut Bergeser

Bersilaturahmi juga selalu menjadi agenda wajib dalam perayaan Idul Fitri. Bersilaturahmi dilakukan untuk bertemu keluarga besar atau sanak saudara yang di hari biasa jarang bahkan enggak pernah bertemu dan bermaaf-maafan.


Makan Ketupat

sumber foto: popmama.com
Bahkan makanan yang muncul pada bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri pun menjadi tradisi lebaran yang terus melekat. Jika saat Ramadan, makanan khasnya adalah kolak, es buah, dan kurma, maka saat lebaran berbeda lagi. Ada menu ketupat yang menjadi satu-satunya makanan khas saat lebaran. Ada sayur lodeh sebagai pelengkapnya, rendang, opor ayam dan sambal goreng yang tak kalah nikmat melengkapi sajian menu ketupat khas lebaran. Benar, menu yang satu ini memang bikin rindu.


Bingkisan Lebaran

sumber foto: pexels
Selain membagikan THR, pemberian bingkisan juga selalu identik dengan perayaan lebaran. Bingkisan ini umumnya juga diterima oleh pekerja dari tempatnya bekerja. Namun banyak juga bingkisan lebaran diberikan bagi pelanggan oleh pemilik toko. Bingkisan lebaran ini bisa diartikan sebagai ucapan terima kasih atas kerjasama selama satu tahun dan sebagai ucapan hari raya Idul Fitri.

Itulah 7 tradisi lebaran yang paling khas di Indonesia. Tradisi lebaran tersebut membuat siapa saja selalu merindukannya, terutama bagi mereka yang sedang berada di kejauhan saat lebaran tiba. Kenangan akan tradisi-tradisi tersebut pasti membuat mereka mengingat keluarganya.

Salam,

29 May 2019

Tradisi Beli Baju Lebaran dari Masa ke Masa

18:59 0 Comments

Ramadan sudah hampir usai. Berbagai hal mulai dipersiapkan menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Hari raya tersebut selalu identik dengan segala sesuatu yang baru. Arti dari fitri saja berarti kembali suci. Amalan kembali suci karena insyaallah dosa-dosa telah diampuni oleh Allah SWT selama bulan Ramadan. Pun dosa-dosa terhadap orang lain juga telah diampuni karena bermaaf-maafan saat hari raya. Intinya, semua umat Islam kembali menjadi manusia baru.

Istilah baru ini nyatanya juga berlaku untuk semua hal. Perabotan rumah baru, tampilan rumah baru dengan dicat ulang misalnya, hingga apapun yang dipakai juga menginginkan yang baru. Baju baru, sepatu baru, jilbab baru. Manusia baru juga tampil dengan pakaian baru. Itulah yang selama ini melekat menjadi tradisi saar hari raya. Hingga di bulan Ramadan selalu ada kesibukan untuk berburu baju lebaran.

Entah sejak kapan tradisi memakai pakaian baru ini ada di setiap perayaan Idul Fitri. Yang jelas, selama yang aku ingat, selama itu pula lebaran selalu datang dengan baju baru. Namun seiring waktu, tradisi membeli baju lebaran itu terus mengalami perubahan. Mulai dari selera baju kesukaan, jumlah baju yang dibeli, tempat hingga cara membelinya.

Saat masih kecil, satu hal yang paling membuat semangat saat lebaran hampir usai adalah baju lebaran baru. Waktu itu memang belum terlalu pintar memilih model baju. Orangtua, terutama ibulah yang menjadi penentu. Yang terpenting adalah lebaran memakai baju baru.

Kemudian, tradisi itu mulai berubah saat sudah mulai beranjak dewasa. Dengan segala pola pikir yang mulai matang, selera baju lebaran pun juga terus berkembang. Ditambah dengan munculnya keinginan sendiri dan enggak bisa lagi nurutin kemauan ibu soal pilihan baju. Jadilah membeli baju baru sesuai selera sendiri. Dan hal ini terus berlanjut setiap tahunnya.

Satu lagi nih, trend baju lebaran yang kala itu banyak diikuti yaitu memiliki lebih dari satu baju baru. Satu baju dipakai untuk pergi shalat ied, satu lagi dipakai saat bersilaturahmi. Belum lagi ada yang membuat trend baju baru masing-masing satu untuk setiap harinya saat lebaran. Jadi selama 7 hari merayakan Idul Fitri, selama 7 kali pula memakai baju baru.

Kemudian saat sudah menjadi ibu, tradisi berburu baju lebaran juga berubah. Bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga memikirkan baju untuk anak. Apalagi anak perempuan yang memiliki banyak pilihan baju berbagai jenis, berbagai model dan beragam warna. Berburu baju baru untuk anak juga telah menjadi satu fokus ketika Ramadan hampir usai.

Saat teknologi semakin canggih, banyak muncul toko online, tradisi berburu baju lebaran ikut mengalami perkembangan. Sudah enggak pernah lagi masuk dari satu toko baju ke toko baju lain. Belanja baju kini menjadi lebih mudah dan praktis hanya dengan mengoperasikan smartphone.

Sudah banyak penjual baju online di Facebook maupun Instagram. Banyak pula marketplace seperti Shopee, Tokopedia dan sebagainya sebagai tempat mencari barang apapun dengan mudah dan cepat. Belum lagi beberapa e-commerce khusus fashion seperti Sorabel, Hijup, Zalora dan lain-lain yang semakin memudahkan belanja baju dan item fashion lainnya.

Sudah  sekitar 4 tahun terakhir ini, beli baju lebaran semakin mudah dengan memanfaatkan samrtphone. Sudah enggak perlu lagi milih baju keliling toko. Bukan enggak mungkin, tradisi membeli baju baru untuk lebaran akan semakin canggih seiring dengan perkembangan zaman.

Salam,

5 Alasan Mengikuti 12 Days Blog Challenge

10:06 0 Comments


Alhamdulillah, puasa sudah memasuki hari ke-24. Dibarengi juga dengan 12 days blog challenge oleh Indscript Creative yang sudah memasuki hari ke-12, it means hari terakhir. Masyaallah, lega sekali rasanya. Lega karena ternyata bisa sampai pada tantangan terakhir dengan semua perjuangan selama 12 hari menulis rutin di blog dengan tema yang ditentukan.

Berat? Bisa jadi. Karena tantangan ini aku lakukan di sela kesibukanku yang masih seputar tulis menulis artikel. Hampir tiap hari deadline menulis artikel terus kejar-kejaran. Enggak cuma dikit, seringnya banyak bahkan sampai ribuan kata. Enggak cuma tema ringan, tetapi dengan tema yang rumit dan kadang enggak ngerti pula.

Sempit? Bisa jadi juga. Karena mau enggak mau waktu bulan Ramadan ini seolah begitu singkat. Pagi memang lebih luang karena enggak ada kegiatan masak memasak. Tapi siang hari badan selalu minta diistirahatkan. Setelah itu waktu sore hari terasa lebih singkat karena harus memasak dan semua harus siap sebelum waktu maghrib tiba. Malam harinya, baru bisa menulis setelah selesai shalat tarawih. Itupun kadang terlewat karena mengantuk hihihi

Duh, banyak alasan amat ya *ampun

Tapi karena sudah komitmen dari awal untuk ikut tantangan ini, harus konsisten mengesampingkan semua alasan itu demi selesainya setiap postingan dan harus stor link sebelum jam 22.00 wib.



Sebagai emak-emak, saat melihat pengumuman di atas mungkin matanya langsung fokus pada kalimat "dapatkan bingkisan menarik" hehehe. Tapi sebenarnya, alasan mengikuti 12 days blog challenge lebih dari pada itu.


Melatih Kreativitas

Alasan ini menjadi alasan pertamaku mengikuti tantangan ini. Kenapa? Karena sekarang ini aku sudah bukan anak sekolah atau anak kuliah. Aku sekarang adalah ibu rumah tangga dengan semua kerepotan urusan rumah, anak dan suami setiap harinya. Aku merasa otakku jadi kurang kreatif karena tiap hari ketemunya sama cucian, jemuran, masakan dan tiduran hehehe. Mungkin mikirnya agar terlalu keras kalau sudah menyangkut soal keuangan. Ya meskipun enggak terlalu memeras otak karena enggak akan ada rumus alogritma dan kawan-kawannya.



Beda dengan dulu saat masih sekolah atau kuliah yang tiap hari otak dimasuki pelajaran dan ilmu baru. Belum lagi tugas yang juga setiap hari ada dari pengajar yang berbeda. Mau enggak mau otak akan terus diperas untuk berfikir menyelesaikan tugas tersebut. Tantangan dari Indscript Creative ini mau enggak mau juga membuatku jadi berpikir, mencari ide dan berusaha menuangkannya dalam tulisan.


Mengukur Kemampuan

Alasan mengikuti 12 days challenge yang kedua adalah untuk mengukur kemampuan. Alasan ini juga masih berhubungan dengan alasan pertama yaitu menyangkut kinerja otak. Meskipun menulis blog itu bukan perkara yang terlalu sulit, tapi tetap membutuhkan pemikiran yang lebih.

12 days blog challenge ini dilangsungkan selama 12 hari dengan tema yang berbeda di masing-masing hari. Temanya masih seputar Ramadan karena diadakan di bulan tersebut. Ke-12 tema yang diberikan itu tentu saja enggak semua dikuasai. Bisa jadi karena kecenderungan minat ada di bidang lain. Karena itulah aku menyebutkan alasan keduaku adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuanku terhadap pemahaman tema-tema yang diberikan.


Melatih Disiplin

Melatih disiplin aku sebut sebagai alasanku mengikuti 12 days challenge yang ketiga. Menjadi seorang ibu rumah tangga memang membuat jam kerja rutin terbentu secara alami. Bayangkan saja, memasak harus selesai sebelum jam 7 karena anak dan suami harus berangkat sekolah. Mencuci, jemur dan melipat pakaian harus segera selesai pula karena seragam suami harus segera dipakai lagi. Secara enggak langsung sudah otomatis disiplin.

Namun kadang masih merasa kurang disiplin kalau lagi keenakan mainan medsos, scrolling Facebook dan Instagram yang membuat waktu sangat cepat berlalu. Kebiasaan yang kurang penting itu kemudian jadi sedikit berkurang karena adanya tantangan ini. Karena ingat, link untuk tema hari itu harus distor maksimal jam 22.00 wib setiap harinya. Jadi enggak ada waktu untuk santai terlalu lama jika ingat deadline itu.


Menjadi Produktif

Meskipun setiap hari berkutat dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, rasanya kok ada yang kurang ketika enggak menghasilkan apa-apa. Padahal sebenarnya ada sih yang dihasilkan. Ada masakan yang siap disantap keluarga, ada rumah bersih karena disapu, ada baju bersih yang sudah dicuci. Tapi itu semua enggak cukup. Harus ada yang dihasilkan dan bisa dibagikan ke banyak orang, yaitu dengan tulisan.

Alasan mengikuti 12 days blog challenge ini juga karena aku ingin produktif. Apalagi di bulan puasa ini yang biasanya identik dengan bermalas-malasan yang tiada guna. Maka menulis adalah caraku untuk bisa tetap produktif. Ditambah, tulisanku bisa aku bagikan ke akun media sosialku dan orang lain bisa membacanya. Semoga tulisanku yang sederhana itu menjadi manfaat bagi mereka.


Optimasi Blog

Optimasi blog menjadi alasan mengikuti 12 days challenge yang terakhir. Mengapa yang terakhir? Padahal banyak blogger menggunakan alasan ini sebagai alasan yang pertama agar bisa memaksimalkan blog-nya dan mendapatkan keuntungan dari sana. Karena sebenarnya, niat awal aku membuat blog ini hanya sebagai sarana untukku menyalurkan hobi menulis.

Dengan punya blog, minimal aku punya media untuk menuangkan hasil ide kreatif dan pemikiranku. Agar juga bisa dibaca banyak orang, enggak seperti buku harian zaman dulu yang cuma tersembunyi di lemari atau di bawah bantal. Intinya adalah, aku bisa berkreasi dengan leluasa melalui blog ini. Soal kemudian blog ini membawa keuntungan materi, aku anggap itu bonus.

Namun sayangnya, karena niat awal yang cuma ingin sekedar menulis itulah membuatku enggak konsisten merawat blog ini. Apalagi blog ini sudah memiliki top level domain yang juga dibeli dari hasil menulis. Sayang sekali sebenarnya jika kurang dioptimalkan. Maka dari itu, tantangan ini membuatku harus menulis lebih banyak untuk mengoptimalkan blog ini.


Itulah 5 alasan mengikuti 12 days blog challenge. Harapanku semoga semangatku tetap terjaga untuk mengisi blog ini meski tantangan telah berakhir.

Salam,


28 May 2019

Zaman Makin Modern, Keutamaan dan Nilai Silaturahmi Turut Bergeser

17:46 0 Comments

Hari raya Idul Fitri akan kita temui dalam beberapa hari lagi. Agenda yang paling utama saat hari raya Idul Fitri adalah bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat, teman dan saudara. Silaturahmi ini menjadi agenda penting saat hari raya Idul Fitri karena bagi sebagian orang, bertemu dengan kerabat dan saudara hanya bisa dilakukan di hari raya ini. Selebihnya, waktu sudah dihabiskan untuk bekerja dan bahkan di perantauan.

Bersilaturahmi bermaksud untuk menjalin persaudaraan dan pertemanan. Menjaga tali silaturahmi ini juga menjadi salah satu ajaran yang diperintahkan dalam agama Islam, dengan semua keutamaan yang menyertainya. Keutamaan menjalin silaturahmi ini antara lain untuk memperpanjang umur dan meluaskan rezeki.

Karena merupakan perintah yang dianjurkan, maka memutus silaturahmi juga menjadi hal yang paling dilarang dalam agama Islam. Hal ini dikarenakan sesama manusia dan umat Islam khususnya adalah seperti saudara. Sehingga memutuskan tali silaturahmi sama dengan memutus hubungan persaudaraan.

Seiring perkembangan zaman yang semakin modern dan serba canggih, nilai dan keutamaan silaturahmi tidak lagi sama seperti dulu. Terlebih saat ini generasi milenial selalu memiliki cara sendiri untuk melakukan apa saja yang jelas berbeda dengan cara yang dilakukan orang tua zaman dulu. Kebiasaan yang lebih cenderung ke arah serba praktis dan berhubungan dengan modernitas inilah yang menyebabkan nilai silaturahmi makin bergeser.


Silaturahmi Lewat Gadget

sumber foto: pexels

Di masa sekarang ini, siapa yang tidak memiliki gadget? Mulai dari anak-anak hingga orang tua mengenal gadget dan bahkan memilikinya masing-masing. Ditambah dengan semakin meluasnya jaringan internet dan munculnya banyak fitur serta aplikasi pada perangkat ponsel dan menjadikannya disebut sebagai ponsel pintar. Perangkat tersebut diklaim bisa membantu memudahkan hidup manusia di zaman yang serba praktis ini.

Kemudahan tersebut nampaknya juga berdampak pada silaturahmi. Kini, silaturahmi tidak mengharuskan kedua belah pihak bertemu dan bertatap muka secara langsung bahkan berjabat tangan. Karena semua telah bisa dilakukan melalui gadget dengan mengirim pesan singkat melalui berbagai aplikasi.

Saat ini sudah sangat umum orang mengucapan selamat hari raya Idul Fitri serta memohon maaf hanya melalui pesan singkat. Cara inipun sebenarnya memudahkan bagi mereka yang berjauhan dan tidak mungkin saling bertemu. Namun nilai silaturahmi yang identik dengan kedekatan menjadi berubah karena trend teknologi.


Silaturahmi sebagai Ajang Pamer

sumber foto: pexels
Saat hari raya, umumnya menjadi momen berkumpulnya sebuah keluarga besar atau pertemuan dengan kawan lama. Biasanya silaturahmi juga berwujud reuni yang juga biasanya dilaksanakan saat hari raya Idul Fitri. Agenda ini menjadi saat bertemu dengan banyak orang yang di hari biasa sulit atau bahkan tidak bisa bertemu.

Karena harus bertemu banyak orang inilah, setiap orang pasti ingin tampil maksimal. Maka tak heran jika saat silaturahmi selalu dipilih pakaian terbaik, terbaru dan kalau bisa bernilai mahal. Tidak hanya pakaian, semua yang dibawa dan dipakai juga menjadi hal yang diperhatikan.

Dengan adanya kondisi ini, nilai silaturahmi sebagai ajang untuk mempereat jalinan persaudaraan menjadi berubah sebagai ajang pamer. Entah itu pamer penampilan atau pamer kemampuan diri. Meski secara tidak langsung terucap dan diniatkan, silaturahmi kini lebih mirip seperti momen untuk menunjukkan kebisaan masing-masing.


Silaturahmi bahkan Dihindari

sumber foto: pexels
Bertemu dengan keluarga besar di hari raya kadang menyelipkan sebuah perasaan tidak nyaman. Perasaan tersebut bisa muncul karena kekhawatiran akan pertanyaan yang mungkin terlontar dari keluarga atau teman. Inilah yang membuat nilai silaturahmi bukan lagi sebagai pertemuan yang membawa keberkahan, melainkan menjadi satu waktu yang bisa menakutkan bagi beberapa orang.

Saat bertemu dengan banyak orang, tentu akan mungkin banyak pertanyaan dari mereka. Misalnya saja pertanyaan yang umum yaitu "kapan menikah?". Pertanyaan pendek dan sederhana ini bisa terdengar menyesakkan bagi mereka yang tak kunjung menemukan jodoh bahkan setelah lebaran berikutnya tiba.

Tak hanya satu pertanyaan itu, pertanyaan lain juga bisa menyisakan kegelisahan. Misalnya saja,

"Kerja di mana sekarang?". Orang yang belum mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tetap bisa saja merasa rendah diri karena pertanyaan tersebut.

"Kapan punya anak?". Orang tua yang sebenarnya sudah berusaha namun belum juga diberi karunia tersebut bisa menjadi terluka hatinya.

"Kapan lulus kuliah?". Anak muda yang mungkin sedang dalam kesulitan di pendidikannya bisa jadi terganggu dengan pertanyaan seperti itu.

dan masih banyak contoh pertanyaan lain yang mungkin bagi si penanya terkesan biasa, namun bagi yang mendapat pertanyaan bisa menjadi ketidaknyamanan dan berakibat menghindari silaturahmi.

Seperti itulah masa perlahan menggeser nilai dan keutamaan silaturahmi. Maka jika kita sudah menyadarinya, alangkah baiknya mengembalikan nilai silaturahmi yang sebenarnya agar keberkahan bisa diraih, dan justru bukan hal lain yang didapat.

Salam,