21 May 2019

Rindu Akan Kenangan Ramadan Berkesan di Masa Kecil, Syahdu dan Hangat


Ramadan telah terlewati selama puluhan tahun. Setiap tahunnya, Ramadan terlewati dengan pengalaman yang berbeda. Semakin tambah usia, semakin banyak pengalaman berkesan saat Ramadan. Namun setiap tahun pula, selalu rindu akan Ramadan yang telah lewat. Dan yang paling terasa rindunya adalah rindu akan kenangan ramadan berkesan di masa kecil.

Masa kecil memang menjadi masa-masa paling menyenangkan. Bebas dari tanggungan dan beban hidup. Bebas untuk bermain, tertawa, berteriak. Masa-masa menyenangkan itu makin terasa saat Ramadan tiba. Ramadan bulan yang spesial, spesial pula segala sesuatu yang ada di dalamnya. Karena saat masih kecil belum paham tentang berlimpahnya pahala ibadah di bulan puasa, maka yang paling membuat terkenang dan terkesan adalah suasananya, efuorianya Ramadan. Suasana khas Ramadan yang syahdu dan hangat.

Baca juga: Ngabuburit Lebih Berfaedah dengan 4 Aktivitas Ini, Biar Pahala Puasanya Berlipat

Ngaji Sore

Ngaji memang sudah menjadi aktivitas harianku. Setiap selepas shalat maghrib, aku bersama teman-teman sebaya pergi ke rumah guru ngaji kami. Di sana kami belajar membaca Al-Qur'an, mempelajari maknanya, belajar tajwidnya, belajar ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya. Rutinitas tersebut akan berubah saat Ramadan tiba. Ngaji setelah maghrib jadi berubah jadwal ke sore hari setelah ashar.

Yang menjadi kenangan Ramadan berkesan adalah, sambil menunggu waktu mengaji dimulai, kami biasanya duduk membentuk lingkaran dan bermain gatheng, permainan melempar dan menangkap batu. Setelah pulang mengaji, yang tak pernah ketinggalan adalah beli es batu buat bikin es teh di rumah untuk buka puasa. Waktu itu belum banyak orang punya lemari pendingin seperti sekarang.

Tarawihnya Duduk Paling Belakang

Lagi-lagi, kami dulunya pernah merasakan masa-masa menjadi anak kecil yang belum banyak tau tentang keutamaan bulan Ramadan. Yang kami rasakan hanyalah kami turut suka cita menyambutnya. Enggak terkecuali mengisi malamnya dengan menunaikan shalat tarawih di masjid. Semangatnya luar biasa karena di masjid bisa bertemu dengan teman-teman lagi. Ini juga menjadi salah satu kenangan Ramadan berkesan.

Uniknya, kami belum tahu bahwa shalat di shaf paling depan itu yang utama. Kami juga merasa masih kecil jadi enggak harus shalat hingga akhir. Shalat yang kesekian kali, kami berhenti dan memilih bermain. Makanya itu, kami yang kecil-kecil saat itu memilih untuk berdiri di shaf paling belakang. Biar kalau harus keluar enggak harus melewati banyak orang. Polos sekali, kan?

Ronda yang Dinanti-nanti

Zaman dulu, ronda menjadi cara untuk membangunkan orang sahur. Sekarang pun sepertinya masih seperti itu. Tapi mungkin sudah banyak berubah atau bisa jadi enggak ada sama sekali. Itulah yang kemudian menjadi kenangan ramadan berkesan dan sangat dirindukan. Sekarang sudah enggak ada lagi anak-anak yang berkeliling dengan memukul kentongan sambil teriak, "sahur... sahur...". Sekarang kami lebih mengandalkan alarm pada ponsel untuk bisa bangun tepat waktu ketika sahur.

Anak Zaman Dulu Tak Butuh Eksistensi

Satu hal yang paling terasa bedanya dari Ramadan tahun ke tahun adalah hadirnya teknologi yang semakin canggih. Salah satunya adalah maraknya penggunaan media sosial. Media sosial menjadi tempat beradu eksistensi. Kegiatan selama bulan Ramadan pun masuk dalam bahan untuk menunjukkan eksistensi. Saat buka puasa dibagikan ke media sosial, berangkat taraweh dibagikan ke media sosial, ngaji juga dibagikan ke media sosial, bangun sahur pun juga.

Sedangkan anak zaman dulu sama sekali enggak melakukan semua itu dan kami tetap bahagia merasakan Ramadan syahdu dengan cara yang enggak harus melibatkan teknologi. Kami bersuka cita mengisi Ramadan tanpa merasa orang lain perlu tahu apa yang kami lakukan. Kami cukup senang menikmati saat-saat penuh kedamaian di bulan Ramadan dengan orang-orang tercinta dan terdekat kami, tanpa merasa orang lain yang enggak kenal perlu tahu apapun.

Ya, inilah yang belakangan dirasakan bahwa kesyahduan Ramadan telah perlahan memudar dan itu menjadi kenangan Ramadan berkesan yang terus kami rindukan. Tentu kami sepakat jika Ramadan paling berkesan adalah Ramadan saat kami masih anak-anak. Ramadan sekarang sudah jauh berbeda dengan tuntutan yang semakin beraneka macam.

Itulah beberapa hal yang menjadi kenangan Ramadan berkesan dan selalu kami rindukan. Ingin rasanya mengulang kembali masa-masa menyenangkan tersebut. Namun kenyataan membuat kita harus terus menjalani waktu. Yang terpenting adalah, hati ini tetap bahagia menyambut Ramadan dan terus berusaha mengisinya dengan amalan kebaikan.

Salam,

No comments:

Post a Comment

Mohon Berikan Komentar dengan URL