17 Jun 2022

5 Peran Orangtua yang Bisa Membentuk Karakter Baik Anak di Masa Depan

Foto oleh Gustavo Fring: https://www.pexels.com/


Sebagai orangtua, setiap orang tentu ingin  anaknya menjadi pribadi yang memiliki karakter baik. Tidak hanya sebagai sifat yang diturunkan dari orangtua, karakter baik juga dibentuk dengan berbagai usaha. Yang paling utama, tentu saja adalah peran orangtua.


Sebuah ibarat mengatakan bahwa anak yang lahir layaknya kertas putih. Tentang bagaimana nantinya kertas itu jadinya, tergantung bagaimana orangtua memberikan gambaran. Jika yang ditorehkan baik, maka akan jadi indah kertas tersebut dan begitu juga sebaliknya.


Itu bukan hanya sebuah ibarat melainkan sebuah fakta. Orangtua memiliki peran sangat penting dalam membentuk karakter anak sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak. Maka sudah seharusnya, orangtua menjalankan peran dengan baik seperti cara-cara berikut ini:



1. Mengajarkan Nilai Agama dan Norma


Hal yang paling utama dan pertama yang harus diperankan orangtua adalah mengajarkan nilai agama dan norma. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk bertuhan. Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk mengenal agama berdasarkan keyakinan yang dianutnya.


Semua agama, tanpa terkecuali, pastinya mengajarkan kebaikan. Di dalam ajaran semua agama, norma menjadi suatu hal yang mengatur hidup manusia. Oleh karenanya, orangtua harus mengajarkan anak tentang norma. Peran orangtua yang satu ini bisa dikatakan sebuah kewajiban. Tidak bisa diwakilkan atau dikesampingkan.


Anak dengan ajaran agama yang kuat akan tumbuh menjadi pribadi yang paham akan benar dan salah. Pandangannya akan selalu berada di jalur yang benar, karena ia paham hal yang dilarang. Agama bisa dikatakan sebuah pegangan utama bagi anak untuk hidup di masa depannya.


Agar bisa mengajarkan agama dengan baik kepada anak, tentu orangtua harus terlebih dulu memahami dan menguasai. Inilah pentingnya mencari pasangan yang juga paham agama untuk dinikahi. Karena sejatinya membentuk karakter anak telah dimulai dari memilih pasangan hidup.



2. Memberikan Kebebasan dalam Mengambil Keputusan


Dengan alasan ingin memberikan yang terbaik, tak jarang orangtua berlaku keras pada anak. Orangtua seolah paham semua hal yang baik dan pantas bagi anak. Contohnya, memaksakan kehendak pada anak tanpa ingin tahu pendapat pribadi anak.


Sebenarnya memaksakan kehendak pada anak bukan suatu kesalahan dalam cara pengasuhan. Hal tersebut bisa dilakukan pada usia anak yang tepat, yaitu ketika anak di usia balita. Pada usia tersebut, anak belum mampu mengambil keputusan dan seringkali keinginannya mengarah pada hal yang keliru.


Namun ketika anak sudah mulai mengenal dunia lebih luas, peran orangtua seharusnya juga menyesuaikan. Orangtua sebaiknya mendengarkan pendapat anak dan memberikan kebebasan untuk mengambil keputusan. Tentu saja, orangtua masih berkewajiban untuk mengarahkan.


Dengan pola asuh seperti ini, di masa depan anak akan menjadi pribadi yang berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Karena ia terbiasa mendengar arahan dan petunjuk dari orangtuanya. Ia juga akan terbiasa bertanya dan berdiskusi dengan orangtua dalam pengambilan keputusan apapun.



3. Selalu Hadir di Setiap Tahap Pertumbuhan Anak


Kehadiran orangtua menjadi hal yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak. Tidak hanya saat mereka masih kecil dan bergantung pada orangtua, tapi juga sepanjang usia mereka. Tentu saja, kehadiran dan peran orangtua dalam serial tahap pertumbuhan anak akan berbeda.


Sayangnya, masih banyak orangtua yang abai terhadap keharusan ini. Kebanyakan orangtua beralasan sibuk bekerja hingga jarang bisa hadir untuk anak. Memang sebagian orangtua mungkin benar-benar sulit hadir untuk anak. Misalnya, seorang ayah yang merantau.


Namun perlu diingat lagi bahwa kehadiran bukan hanya tentang keberadaan fisik di samping anak. Bersama dengan hadirnya fisik, kasih sayang dan perhatian orangtua juga harus bisa dirasakan anak. Jika memang harus tinggal berjauhan, menjaga komunikasi dengan anak menjadi solusi.


Kehadiran orangtua akan membuat anak merasa nyaman, merasa disayangi dan dihargai. Saat dewasa, anak akan tentu akan selalu dekat dengan orangtua. Sekalipun fisiknya tidak dekat, anak dan orangtua akan selalu terhubung secara emosional.



4. Memberikan Hadiah dan Hukuman Sewajarnya


Memberikan hadiah dan hukuman menjadi cara asuh anak yang paling banyak dianut orangtua dari dulu hingga sekarang. Cara ini dianggap efektif untuk membentuk karakter anak menjadi pribadi yang baik dan paham akan larangan.


Memang memberikan hukuman dan hadiah masih menjadi metode pengasuhan yang bisa diterapkan di era modern ini. Hanya saja, cara ini tidak perlu diterapkan secara berlebihan. Pemberian hadiah dan hukuman pada anak perlu dilakukan sewajarnya.


Jika anak bersalah, beri hukuman yang tidak mengandung kekerasan. Cukup bagi anak untuk tahu kesalahannya dan bertekad tidak akan mengulanginya. Kekerasan hanya akan menyisakan trauma pada anak.


Termasuk jika anak berhak atas sebuah hadiah, berikan juga sewajarnya. Tidak perlu memberikan benda berharga sangat mahal atau terlalu mengelu-elukannya. Itu hanya akan membuat cepat puas karena merasa paling hebat.



5. Mencontohkan Cara Bersosialisasi


Banyak orangtua yang sibuk mencarikan sekolah mahal dan ternama untuk anaknya. Namun orangtua lupa mengajarkan bagaimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama. Padahal kemampuan itu yang paling dibutuhkan anak ketika terjun di masyarakat.


Orangtua zaman sekarang terlalu fokus pada prestasi anak yang dinilai dalam bentuk angka. Namun orangtua lupa bahwa anak akan diterima di lingkungan karena cara yang benar dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan sesama.


Maka dari itu, sedini mungkin, ajarkan anak bagaimana berbicara dengan orang lain, bagaimana menjaga kesopanan hingga bagaimana menciptakan kenyamanan. Anak akan menjadi pribadi dengan karakter yang menyenangkan, yang kehadirannya selalu dinantikan dan diingat kebaikannya.


Menjadi orangtua bukan perkara yang sederhana. Peran sebagai orangtua juga merupakan sebuah tanggungjawab yang tidak sepele. Oleh karenanya, menjadi orangtua membutuhkan ilmu yang begitu banyak demi bisa membentuk karakter baiknya.


Tidak ada sekolah khusus menjadi orangtua, sehingga ilmunya harus dipelajari sambil menjalankan perannya. Tidak masalah jika kurang atau salah. Asal jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki.


Salam,



8 comments:

  1. Betul nih,perlu di bold ya kak,kata sewajarnya. Karena kadang sebagai orangtua suka berlebihan menaggapi sesuatu yang berasal dari anak,kaya kalau kesal jadi berlebihan,kalau lagi happy juga ,hehe. Makasih sudah diingatkan ya.

    ReplyDelete
  2. Point 1-5 semua nya penting ya kak,karena akan membentuk karakter anak kelak, dan itu pasti terlihat ketika ia beranjak dewasa bagaimana bersikap ataupun bersosialisasi dilingkungan ia berada.

    ReplyDelete
  3. jadi orangtua adalah belajar sepanjang masa, harus selalu memberi contoh yang terbaik kepada anak namun tetap juga harus mendengarkan pendapat anak :)

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, betul sekali, Mbak. Menjadi orang tua nggak ada sekolahnya, tapi tanggung jawabnya berat sekali. Sejak dini mesti menjadi contoh yang baik buat anak-anak. Semoga kita dapat menjadi teladan bagi mereka, ya...

    ReplyDelete
  5. Betul sekali Mba, memang tidak Ada sekolah khusus menjadi orang tua. Kebiasaan baik memang harus Kita yang terapkan. Memang engga ada ibu yang sempurna, setidaknya Kita perlu banyak belajar

    ReplyDelete
  6. Reminder nih, menjadi orang tua selamanya harus tetap belajar dan memperbaiki diri jk ada kesalahan.. Apalagi membesarkan anak saru dengan lainnya jg pasti ada pperbedaan cara ppenangannya ya

    ReplyDelete
  7. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tetapi bukan berarti kita tidak belajar ketika menjalani peran itu. Semoga kita semua menjadi orang tua yang bisa memberi teladan baik untuk anak....

    ReplyDelete
  8. Setuju banget dengan artikel ini. Bener banget bahwa menjadi orang tua tidak ada sekolahnya dan ujiannya sering dadakan pula, hehe.
    Sebisa mungkin kita rajin update ilmu dan mengevaluasi diri dalam pola pengasuhan selama ini. Makasih banyak ilmunya Mbak Risma.

    ReplyDelete