15 Jul 2020

Media Sosial untuk Anak, Seberapa Penting dan Kapan Bisa Mulai Dikenalkan?

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Saat ini kita tengah hidup di era digital. Jalinan pertemanan tidak hanya terjadi di dunia nyata tetapi juga bisa terjalin di dunia maya. Untuk itulah kemudian muncul istilah media sosial, yang merupakan platform pertemanan tanpa batasan waktu dan wilayah. Banyak sekali platform media sosial yang sekarang dikenal dan masing-masing memiliki kelebihan masing-masing. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram hingga platform lain untuk berbagi video.

Ketika kita sebagai orangtua bisa menikmati semua kemudahan yang ditawarkan media sosial, jangan sampai lupa bahwa anak-anak juga termasuk dalam era ini. Tentu jauh berbeda dengan zaman kita saat masih kecil, anak-anak zaman sekarang tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh teknologi. Meskipun bukan untuk tujuan bersenang-senang, anak-anak akan tetap membutuhkan teknologi dan gadget untuk hal lain. Sebut saja keperluan sekolah yang sekarang lebih banyak mengandalkan teknologi.

Maka mau tidak mau, kita orangtua juga harus tetap memperkenalkan mereka dengan teknologi. Ternyata tidak hanya cukup sampai di situ, anak-anak bisa saja tahu tentang tren media sosial. Bisa juga mereka melihat teman-temannya sudah memiliki akun media sosial, kemudian anak ingin juga memilikinya. Sebagai orangtua, tugas kita adalah memberi pengarahan dengan cara yang benar. Mengenal media sosial bukan sesuatu yang salah bagi anak. Namun segala sesuatunya harus tepat dan cukup agar tidak ada efek negatifnya.


Seberapa Penting Media Sosial bagi Anak?

Di kalangan selebritis, anak-anak yang memiliki akun media sosial pribadi sudah bukan suatu hal yang baru. Mereka bahkan sengaja membuat akun media sosial untuk anak-anak mereka sejak di dalam kandungan. Kedua orangtua yang berprofesi sebagai selebritis tentu memiliki kesempatan besar untuk mengenalkan akun media sosial sang anak pada public. Lalu dalam waktu cepat, akun media sosial anak langsung banjir pengikut.

Gambaran di atas seolah memberikan petunjuk bahwa tidak masalah jika anak memiliki akun media sosial pribadi. Kemudian para artis itu juga sering menyebutkan bahwa akun media sosial anak sepenuhnya di bawah aturan sang orangtua. Dengan kata lain, meski akun media sosial sudah diatasnamakan kepada anak, tapi seluruh aktivitas akun tersebut dikendalikan oleh orangtua. Sementara bagi kita yang tidak berprofesi sebagai public figure, haruskah mengikuti jejak mereka?

Jawabannya ada dalam prinsip kita. Jika kita termasuk penganut prinsip larangan bermain media sosial bagi anak, sah-sah saja jika kita tidak mengenalkan media sosial sama sekali kepada anak. Akan tetapi kita tetap harus memiliki aturan tentang kapan anak kita bisa mulai mengenal media sosial. Kita sebagai orangtua bisa berdiskusi untuk menentukan pada usia berapa anak-anak nantinya bisa bersosialisasi dengan media sosial. Karena akan sulit jika menghindarkan media sosial dari anak mengingat mereka akan hidup di masa depan ketika segalanya sudah jauh lebih canggih.

Baca juga: Cara Bijak Mendampingi Anak Bermedia Sosial

Ketika kita sudah menentukan kapan anak bisa mulai mengenal media sosial, kita pun sebagai orangtua juga sudah harus memahami kebutuhan mereka. Jangan sampai mengizinkan anak memakai media sosial tanpa tujuan yang penting. Misalnya hanya karena menuruti tren teman sebaya yang sudah punya media sosial. Kita harus mengenali tujuan inti dari memiliki media sosial, seperti halnya ketika anak-anak membuthkan media sosialnya untuk kepentingan pendidikan.

Contoh lain pun banyak ditemui pada anak-anak yang bukan berasal dari keluarga selebritis. Mereka umumnya memiliki akun media sosial dengan nama sendiri dan memiliki banyak pengikut. Mereka biasanya adalah anak-anak yang memiliki kemampuan khusus hingga bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan sebagai penerima endorse. Juga tidak ada yang salah dengan anak yang demikian. Lagi-lagi orangtua masih harus tetap memegang peranan utama dalam menjalankan akun tersebut.

Jika memang tidak ada kepentingan apapun yang bersifat penting, pun juga tidak ada akibat buruk apapun jika anak tidak punya akun media sosial, sebaiknya memang tidak terburu-buru dalam mengenalkannya kepada anak. Karena kalaupun dikenalkan lebih dulu, anak tidak akan langsung mengerti apa kegunaannya. Justru anak bisa menggunakan media sosial secara mandiri tanpa campur tangan orangtua dan itu bisa membahayakan.


Kapan Anak Bisa Dikenalkan pada Media Sosial?

Dalam kondisi yang terjadi di kalangan artis, sebenernya tidak ada aturan khusus tentang kapan seharusnya anak mengenal media sosial. Karena meskipun anak-anak para selebritis itu sudah sangat terkenal melalui akun media sosialnya, sang anak sendiri pasti belum memahami betul tentang apa itu media sosial dan kegunaannya. Jadi selama anak masih belum cukup mampu untuk mengerti, sebaiknya memang media sosial atas nama anak tetap diatur oleh orangtua sendiri, bukan admin, bukan orang lain.

Ketika anak sudah mulai mengenal gadget, sebenarnya sudah sangat mungkin bagi anak untuk mengenal media sosial. Karena platform media sosial selalu tersedia di gadget dengan sambungan internet, jadi pasti tidak sulit bagi anak untuk mengaksesnya. Namun jika anak-anak masih dalam usia terlalu dini, mengenalkan media sosial bukan suatu hal yang harus dilakukan meski sebenarnya mereka sudah menggunakan gadget.
Saat anak sudah beranjak dewasa, baru orangtua bisa memberi keleluasaan bagi anak untuk bermedia sosial. Usia yang dirasa sudah tepat mengenal media sosial adalah usia di atas 12 tahun. Pada usia itu, anak-anak sudah mengenal lingkungan pertemanan yang lebih luas. Mereka juga mulai memiliki banyak teman dari berbagai kalangan dan mungkin dari tempat tinggal yang berbeda. Lagi pula, pada usia itu anak-anak mulai bisa berpikir logis tentang apa yang dilakukannya.


Bagaimana Sikap Orangtua dalam Mendampingi Anak Bermedia Sosial?

Orangtua tetap menjadi pemegang peranan utama dalam setiap fase kehidupan anak. Tak terkecuali ketika anak sudah mulai mengenal dunia maya sebagai tempat berteman. Orangtua harus bisa menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas apa yang anaknya lakukan di media sosial. Untuk itu, beberapa hal ini perlu diperhatikan orangtua dalam bersikap dengan bijak terhadap anaknya yang sudah mulai mengenal media sosial.

  • Menjadi Tempat Curhat Paling Nyaman
Tugas orangtua yang terpenting adalah menjadikan dirinya sebagai tempat curahan hati paling nyaman bagi anaknya. Hal ini dimaksudkan agar sang anak bisa menggunakan media sosial untuk hal-hal yang benar. Jika orangtua menjadi tempat curhat paling asyik, maka anak tidak akan mengutarakan perasaannya pada media sosial yang mungkin bisa berakibat buruk. Menjadi pendengar merupakan cara memberi perhatian paling bagus agar anak tidak mencari perhatian kepada orang lain termasuk di media sosial.

  • Memantau Media Sosial Anak
Usia remaja memang menjadi usia yang sangat rentan bagi anak terkena pengaruh buruk. Pengaruh buruk itu bisa didapatkan salah satunya dari media sosial. Untuk itu, orangtua sebaiknya tetap memantau akun media sosial anak secara berkala. Jika perlu, orangtua tahu kata kunci media sosial milik anak supaya bisa memeriksanya setiap saat. Hal ini bukan sebuah bentuk ikut campur orangtua dalam urusan anak, melainkan menghindarkan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Menciptakan Pertemanan di Dunia Nyata
Meskipun anak sudah mengenal media sosial sebagai tempat pertemanan dunia maya, orangtua masih harus tetap menyediakan kesempatan berteman di dunia nyata. Orangtua masih harus memantau dengan siapa saja anak berteman di lingkungan sekitar atau dengan siapa sang anak sering pergi bermain. Pertemanan dunia nyata akan memberikan pengalaman lain yang tidak didapatkannya dari dunia maya. Selain itu, pertemanan dunia nyata akan menyeimbangkan kebutuhan anak akan sosok teman yang real dan bukan hanya berinteraksi secara virtual.


Semoga tulisan di atas bisa memberikan gambaran kepada orangtua tentang bagaimana harus menyikapi penggunaan media sosial untuk anak. Menjadi orangtua bijak memang tidak bisa terwujud secara instan. Oleh karena itu, kedua orangtua harus selalu berdiskusi dan bekerja sama dengan anggota keluarga lain demi mewujudkan kedisiplinan bagi anak.

Salam,

No comments:

Post a comment