18 May 2019

Bagaimana Harus Menahan Diri Ketika Ramadan, Biar Tak Cuma Lapar dan Haus yang Didapat

Gambar oleh Sarah Lötscher dari Pixabay
Jika ada yang bertanya, apa itu puasa Ramadan? Jawaban yang muncul pasti, menahan diri dari makan dan minum mulai dari terbit hingga terbenam matahari. Itulah makna puasa secara istilah. Namun puasa tidak cukup dimaknai secara istilah saja. Puasa harus bisa menjadi saranan untuk menahan diri ketika Ramadan, bukan hanya dari rasa lapar dan haus, tapi juga dari apapun yang membawa pengaruh buruk dan bahkan bisa membatalkan puasa tersebut.

Puasa sesungguhnya adalah proses yang diharapkan menjadi cara manusia untuk menjadi lebih baik. Sehingga bukan hanya sekedar mampu lapar dan mampu haus, lalu kembali makan setelah waktu diperbolehkan untuk berbuka. Puasa sebenarnya lebih dari pada itu, yaitu sebuah perjalanan spiritual untuk mencapai tingkat keimanan yang lebih tinggi.

Menjalankan puasa seharian penuh, bukan jaminan akan diterimanya ibadah kita di hari itu. Meski tanpa makan dan minum dengan sengaja yang memang itu jelas menjadi penyebab batalnya puasa. Namun ada beberapa hal yang bisa mengurangi keberkahan bahkan pahala puasa itu sendiri. Dan hal ini sering tidak disadari. Hingga akhirnya saat puasa selesai, hanya lapar dan haus yang didapatkan, tapi pahala dan keberkahan masih menjadi misteri.

Jadi bagaimana harus menahan diri ketika Ramadan? Apa saja yang perlu ditahan selain makan dan minum?

Membicarakan Aib Orang Lain

sumber foto: fimela.com
Kebiasaan ini telah menjadi kebiasaan yang sangat sulit dihindari saking seringnya dilakukan. Kadang hal ini tidak sadar telah dilakukan karena sepertinya hanya sekedar ngobrol biasa. Padahal ngobrol biasa bisa sampai ke hal-hal yang menyangkut kepentingan orang lain, dan itu tidak seharusnya dijadikan perbincangan. Terlebih itu tentang keburukan. Inilah yang bisa mengurangi pahala puasa. Maka menahan diri ketika Ramadan tak cukup dengan menahan perut, namun juga menahan mulut untuk tidak berbicara buruk tentang orang lain.

Emosi dan Amarah

sumber foto: pexels
Menahan diri ketika Ramadan lagi-lagi tak cukup hanya menahan mulut agar tidak makan dan minum. Menahan diri selanjutnya yang perlu dilakukan agar ibada puasa bernilai pahala adalah menahan amarah. Emosi manusia secara manusiawi pasti akan memberikan respon atas setiap kejadian. Namun, gunanya puasa adalah sebagai latihan menahan emosi sehingga tidak akan mengeluarkan respon yang berlebihan seperti marah-marah atau membentak.

Berkata Bohong

sumber foto: pexels
Setiap orang pasti tahu bahwa berkata bohong adalah salah satu bentuk dosa yang akan menerima ganjaran yang sesuai. Namun berbohong juga sering dilakukan dengan tanpa sadar dan menjadi kebiasaan. Padahal berkata bohong selain itu dosa, juga bisa menghanguskan pahala puasa. Jadi yang didapat dari puasa hanyalah lapar dan haus saja.


Bukan hanya berkata dengan lisan, saat ini sudah banyak cara berbohong yang lebih modern yaitu dengan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya melalu media sosial. Tanpa harus berkata-kata, jari juga bisa menjadi alat untuk berbohong dengan menggunakannya untuk menyebar kebohongan melalui tulisan. Ini juga menjadi penggugur pahala puasa dan orang berpuasa harus bisa menahan diri ketika Ramadan dari hal ini.

Nafsu

sumber foto: pixabay
Puasa sesungguhnya adalah waktu latihan untuk menahan diri dari apa saja, termasuk nafsu dan keinginan yang berlebihan. Bukan cuma nafsu secara biologis yang memang sudah jelas-jelas dilarang karena bisa membatalkan puasa. Namun juga nafsu dunia yang menginginkan banyak hal untuk dimiliki.

Puasa menjadi cara untuk lebih memahami kekurangan orang lain dan kepekaan terhadap sesama, bukan hanya ingin menjadi diri yang mampu dengan memiliki segalanya. Karena nyatanya apa yang dimiliki juga terdapat hak orang lain. Menahan diri ketika Ramadan dari nafsu dunia diharapkan bisa menjadi kebiasaan setelah Ramadan usai.

Siapapun yang menyadari bahwa menahan diri ketika Ramadan bukan sekedar menahan perut untuk bisa lapar, sesungguhnya ia telah memahami arti puasa lebih dari sekedar definisi secara istilah. Semua bentuk usahan untuk menahan diri itu tentu akan menambah kadar keimanan jika terus dilakukan bahkan setelah Ramadan pergi dan dilanjutkan hingga pertemuan kembali dengan Ramadan. Insyaallah.

Semoga bermanfaat :)

Salam,

No comments:

Post a Comment

Mohon Berikan Komentar dengan URL