5 Feb 2019

Cerpen: Istri dengan Wajah Semrawut

sumber: IG @_katahatikita

Petang itu langit kota Jakarta dihiasi rintik hujan. Gelapnya mendung hampir serasi beradu dengan gelapnya langit tanda malam akan tiba. Suara gemuruh dan kilatan cahaya semakin menambah kesan mencekam.

Seperti biasa, mendekati petang datang, se-mencekam apapun suasananya, kota besar Jakarta masih tetap saja sibuk. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan lalu lalang, dari motor, mobil hingga kendaraan besar lainnya. Semua ingin segera sampai di rumah setelah menekuni pekerjaan seharian di tempat yang mereka sebut tempat mengais rezeki.

Semua ingin segera berkumpul dengan keluarganya di rumah, melepas penat, mendapat hiburan setelah keletihan yang didapat di tempat kerja. Namun tidak dengan Ramdan. Ia justru merasa malas kembali ke rumah. Namun ia juga tidak mungkin semalaman berada di kantor dan tidur di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk menepikan motornya di salah satu kafe.

Ramdan memesan secangkir espresso. Ia ingin seruputan espresso panas bisa mengalihkan rasa penatnya sehabis bekerja, juga rasa malasnya jika harus kembali pulang. Ia memilih duduk di dekat pintu masuk sambil menikmati lantunan merdu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita.

Beberapa menit berselang, seseorang masuk dari pintu dengan tergesa-gesa. Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang hampir seluruhnya basah karena hujan. Pria itu langsung duduk di kursi yang satu meja dengan Ramdan. Sepertinya ia tak melihat jika ada Ramdan di sana.

"Oh, maaf Mas, saya enggak lihat kalau sudah ada orang di sini", kata pria itu.

"Enggak apa-apa, Mas. Kebetulan saya memang sendirian", jawab Ramdan.

"Oke, saya boleh lanjut duduk di sini kalau begitu ya? Kalau iya, saya tidak perlu cari tempat duduk lain. Sepertinya kafe ini hampir penuh karena di luar hujan".

"Silakan".

Pria itu kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan segelas coklat panas.

"Saya Fikri, Mas", kata pria itu sambil mengulurkan tangan pada Ramdan.

"Saya Ramdan", jawab Ramdan menyambut uluran tangan itu.

"Nunggu hujan reda juga ya Mas sebelum pulang?"

"Hmm, saya sebenarnya malas pulang".

"Wah, kalau begitu Mas Ramdan harus segera menikah, biar semangat saat waktunya pulang", canda Fikri sambil setengah tertawa.


"Saya sudah menikah, bahkan sudah ada dua anak".

"Oh ya? Aduh, maaf. Saya enggak bermaksud ... "

"Enggak masalah, Mas. Santai aja", sahut Ramdan dengan memaksakan senyumnya.

"Tapi kenapa harus malas, Mas? Bukannya waktu pulang itu yang selalu ditunggu-tunggu seorang suami?"

Ramdan masih terdiam.

"Maaf, Mas kalau saya terlalu banyak ingin tahu. Sekali lagi maaf".

"Istri saya tidak pernah menyenangkan saya, Mas. Setiap saya pulang, saya selalu melihat istri saya dalam keadaan yang enggak enak dipandang. Dia pakai daster lusuh, rambutnya kusut seperti enggak pernah disisir. Belum lagi wajahnya kusut, semrawut. Benar-benar membuat saya malas pulang".

Fikri masih terdiam.

"Saya inginnya setiap pulang dia menyambut saya dengan penampilan yang cantik. Saya sudah bekerja seharian penuh di kantor. Lelah dan ingin mendapat kesegaran saat di rumah. Belum lagi, rumah selalu berantakan. Bagaimana saya bisa nyaman dengan keadaan seperti itu di rumah?"

"Hmm, Mas Ramdah enggak pakai jasa asisten rumah tangga?"

Ramdan menggeleng. "Istri saya tidak bekerja, jadi buat apa saya harus menggunakan jasa orang lain untuk mengurus rumah?", lanjutnya.

"Mas Ramdan ingat enggak, dulu sebelum menikah, istri Mas Ramdan seperti apa?"

"Dia cantik, Mas. Dia langsing, kulitnya bersih, wajahnya juga cerah. Makanya itu saya jatuh cinta kepadanya dan menikahinya."

"Mas Ramdan sudah membuatnya mengandung dua anak. Dua kali itu pula dia merasakan beban berat, yang mungkin kita sebagai lelaki tidak sanggup menanggungnya. Bayangkan Mas, perutnya sangat besar dan berat waktu mengandung. Belum lagi dia harus merasakan banyak hal tidak nyaman selama 9 bulan".

Ramdan terdiam.

"Belum selesai, dia masih harus berjuang melahirkan kedua anaknya. Dia bahkantahu kalau nyawanya bisa saja melayang karena itu. Tapi dia tetap ingin melahirkan buah hati kalian. Mas Ramdan beruntung karena istri Mas Ramdan berhasil lolos dari maut. Saya lebih tidak beruntung, karena bahkan untuk melahirkan anak pertama kami saja, istri saya harus merelakan nyawanya", Fikri mulai berkaca-kaca.

Begitupun juga Ramdan. Ia yang sedari tadi mematung, mulai menunjukkan reaksi iba.

"Setelah melahirkan dengan selamat, istri Mas Ramdan masih harus mengurusnya sendirian. Sementara Mas Ramdan bekerja. Dan tidak ada jasa baby sitter yang membantunya. Belum sampai anak pertama kalian beranjak besar, datanglah anak kedua kalian. Mas Ramdan beruntung memiliki seorang bidadari dan dua malaikat kecil. Saya kehilangan bidadari saya dan bahkan malaikat kecil saya satu-satunya".

Ramdan masih terpaku seolah tak bisa mengatakan apapun.

"Seorang istri bahkan ia lebih sedkiti tidur demi menyempurnakan hari orang kesayangannya, anak dan suami. Ia tidak mendapat gaji dari siapapun, tapi ia bekerja tak kenal libur dan cuti. Ia hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah yang rasanya waktu 24 jam itu seperti kurang baginya. Saking banyaknya yang harus ia kerjakan".

"Wajar, jika saat malam tiba, yang terlihat hanya wajah semrawutnya. Se-semrawut itulah hari-harinya di rumah. Ia tak bekerja, tak menghasilkan uang dan hanya menerima uang belanja. Tapi ia pasti berusaha sekuat tenaga untuk membuat rumah kalian bersih, meski anak-anak dengan cepat bisa membuatnya berantakan lagi."

"Jika ia bisa bersantai-santai, ia pasti sempat jika hanya menyisir atau sekedar memulas bedak pada wajahnya. Kenyataannya, ia seringkali tak menemukan waktu senggang untuk sekedar mandi dengan leluasa tanpa teriakan anak dari luar yang memaksanya segera selesai mandi".

"Jika Mas Ramdan ingin melihat istri dalam keadaan cantik setiap pulang dari kantor, berikan ia bantuan untuk mengurus rumah. Atau jika itu sulit, korbankan tenaga Mas Ramdan untuk membantunya sedikit saja, agar ia tersenyum dan terlihat cantik".

Ramdan mulai menitikkan air mata. Ia merasa bersalah pada istrinya yang selalu ia lihat dengan wajah semrawut. Dalam kepalanya terbayang bagaimana dulu istrinya meringis kesakitan saat kontraksi. Pun saat istrinya mengejan hampir kehabisan suara saat melahirkan. Namun semua itu seolah tak membuatnya tersentuh.

Itu dulu. Saat ini ia telah sadar. Sadar dengan nasihat dari Fikri.

"Terimakasih sudah mengingatkanku, Mas. Mungkin aku akan terus seperti ini jika tidak bertemu denganmu malam ini".

"Segeralah pulang, Mas. Hanya kepulanganmu dengan selamat yang sangat ditunggu-tunggu oleh istrimu."

Ramdan membayar minuman pesanannya, kemudian beranjak pergi dengan tergesa-gesa. Hujan memang masih lebat, tapi keinginannya untuk pulang untuk segera meminta maaf pada istrinya ternyata lebih kuat.

No comments:

Post a Comment

Mohon Berikan Komentar dengan URL