24 Jan 2019

Pesan Ibu: Membantu Sekuat Tenaga, Memberi Sebaik Mungkin


Meskipun Hari Ibu sudah terlewat jauh, semoga tulisan ini tetap mewakili perasaan bangga penuh cinta pada sosok ibu.

Ibu. Apa yang terlintas di pikiran saat mendengar kata itu? Kalau aku, langsung terbayang sosok perempuan tangguh yang aku panggil "Emak". Beliau perempuan yang telah bertaruh nyawa untuk bisa menghadirkanku ke dunia. Beliau perempuan yang darinya aku mendapatkan sumber kehidupan pertama berupa air susu. Beliau perempuan yang bahkan hingga detik ini, hingga akupun menjadi ibu, tetap mengorbankan tenaganya, pikirannya dan apapun yang dimilikinya, tanpa pernah mengharapkan imbalan.

Kasih sayangnya? Jangan ditanya lagi. Karena kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.
Pengorbanannya? Jangan ditanya juga. Kalaupun nyawanya diminta, ibu akan dengan rela memberikannya.
Doanya? Jangan juga pernah meragukannya. Karena bahkan langit saja tidak mau membatasi doa dari mulutnya untuk langsung didengar Allah.

Ibu, memang sangat tepat disebut perempuan tangguh. Bukan lagi tentang pekerjaan rumah yang sudah menjadi kewajibannya. Itu sudah pasti bisa diselesaikannya tanpa menanti bayaran atau penghargaan dari siapapun. Bahkan jika harus merelakan waktu istirahatnya untuk mengurus anak dan rumah tangga, ibu akan melakukannya meski harus menampilkan wajah sayu karena letih.

Ibu, ibuku lebih dari sekedar ibu rumah tangga. Ibuku juga mampu bekerja keras mencari uang untuk membayar biaya hidup anak-anaknya. Bukan, bukan karena ayahku tidak mampu menafkahi kami. Tapi karena ibu tak mau diam saja dan hanya berpangku tangan menunggu pemberian suaminya. Ibuku justru ingin bersama ayahku berusaha bersama, berdua, untuk kehidupan keluarga yang lebih baik. Ibu, tak pernah ingin diam sementara Beliau tahu ada banyak hal yang bisa dilakukakannya selama itu untuk kebaikan anak-anaknya.

Seperti lirik lagi dari Jasmine Elektrik ini, "ku kayuh perahu menuju pulau citaku. diiringi doa nasehat bijakmu ibu", ibu yang tak hanya membekali anak-anaknya dengan doa namun juga nasehat berharga.

Tidak akan cukup sebanyak apapun lembar kertas untuk menceritakan kebaikan ibu. Karena ibuku bukan hanya orangtua kandungku. Karena ibuku sekaligus guru kehidupanku yang mengajarkan banyak nilai-nilai penting dalam kehidupan, agar kami menjadi manusia yang baik, yang berhati dan peduli.

Ya, kepedulian ibuku pada orang lain bahkan sering membuat diriku sendiri iri. Bagaimana mungkin setulus itu berbuat baik kepada orang lain, sementara bahkan ucapan terimakasih saja sering tidak diterimanya. Bagaimana mungkin sepeduli itu terhadap orang lain, sementara saat dirinya tengah butuh kepedulian, tak ada balasan dari orang yang telah dipedulikannya kemarin. Bagaimana mungkin sesegera itu menolong orang lain, sementara saat dirinya butuh ditolong, tidak ada yang mungkin bisa dimintai.

Ternyata, pertanyaan heranku itu terjawab dengan sebuah jawaban yang akhirnya membuatku sadar bahwa hidup kita sudah ada yang menjamin. Ibu bilang, ibu berbuat baik hanya ingin mendapat balasan dari Allah, bukan dari siapapun manusia yang pernah diringkankan bebannya oleh ibuku. Ibu bilang, orang berbuat baik tidak akan pernah rugi. Hanya tidak mendapat balasan atau sekedar ucapan terimakasih saja itu sama sekali bukan masalah besar.

Yang terpenting adalah niat tulus kita. Dan biarkan Allah yang membayar atas semuanya. Karena bayaran dari Allah tentu saja tidak akan pernah bisa menandingi bayaran dari manusia, sekaya apapun dia.

Satu lagi jawaban ibu yang membuatku ingin terus berbuat baik. Ibu bilang kalaupun tidak ada balasan kebaikan yang kita terima atas kebaikan kita terhadap orang lain, pastilah anak cucunya yang akan merasakan balasannya kelak. Ya, selain selalu menyebut nama kami dalam doa, rupanya ibuku sudah menabung sikap baik yang kelak hasil baiknya akan bisa diterima anak cucunya.

Ibu bilang, "Jangan pernah berfikir dua kali untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Karena kalau bukan kita sendiri yang mendapat balasan baik, pasti anak cucu kita nanti yang akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di manapun dan kapanpun. Juga jangan ragu untuk berbuat baik, karena jika bukan kita sendiri yang menerima balasan bantuan, maka anak cucu kita yang akan dibantu"

Ibuku juga bukan orang yang bisa mudah melupakan kebaikan orang lain. Meski tak seberapa, kebaikan orang lain terhadapnya akan selalu diingatnya dan berusaha untuk membalasnya dengan balasan yang lebih kalau memang bisa. Inilah yang juga menjadi pelajaran yang terus aku ingat.

Berbuat baik identik dengan memberi. Dan dengan memberi tidak akan pernah menjadikan kita kurang. Itu juga yang dipercayai oleh ibuku. Beliau memiliki prinsip bahwa memberi harus yang terbaik.

Jika bisa memberi yang besar, mengapa hanya memberi kecil?
Jika bisa memberi yang banyak, mengapa hanya memberi sedikit?
Jika bisa memberi yang bagus, mengapa yang jelek tidak dibuang saja dan tidak perlu diberikan?
Jika mampu memberi sekarang, mengapa harus menundanya?

Ya, itulah yang menjadi pedoman ibuku yang akhirnya juga menjadi pelajaran berharga bagiku. Ibuku akan memberi sebaik mungkin yang asal Beliau bisa dan mampu. Karena dengan memberi asal-asalan, memberi yang tidak baik itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Begitu kata ibuku.

Membantu sekuat tenaga, memberi sebaik mungkin. Dua pesan itu yang tetap aku ingat dan berusaha jalankan hingga kini. Semoga bisa sekuat, sebaik, dan setulus ibu.

#JasmineElektrikCeritaIbu

Salam,

No comments:

Post a Comment

Mohon Berikan Komentar dengan URL